SURAT PEMBACA

Islam Selamatkan Negeri

Umar pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita dalam kebenaran?”

Rasulullah menjawab, “Memang benar, demi Allah, hidup dan mati kalian dalam kebenaran.”

“Kalau begitu,” kata Umar lagi, “Mengapa kita sembunyi-sembunyi? Demi yang mengutus anda pada kebenaran, kita harus keluar!”

Tak lama Rasulullahpun ke luar dalam dua rombongan. Rombongan pertama ada Umar bin Khaththab. Dan yang kedua ada Hamzah bin Abdul Muththolib. Keduanya melambangkan kekuatan dan kedigdayaan. Kaum kafir Quraiys hanya bisa pasrah melihat mereka masuk ke Masjidil Haram.


Islam menunjukkan warnanya. Kekuatannya tidak bisa disandingkan dengan pemikiran manapun. Sumber hukum Islam dari Kitabullah dan Sunah, adalah sebaik-baik aturan yang akan membawa umat kepada kebaikan dunia dan akhirat. Inilah yang kemudian menggerakan umat untuk menuntut perbaikan.

Aksi mujahid 212 kembali mengguncang Ibu kota, tepatnya di kawasan Patung Kuda. Berbagai organisasi massa (ormas) tergabung di sana. Termasuk di antaranya Barisan Emak-Emak Militan (BEM). Ribuan peserta Aksi Mujahid 212 menyuarakan penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) serta menuntut Presiden Jokowi mundur.

Aksi yang digelar di depan Istana adalah sebagai respons atas kondisi ketidakadilan yang diterima sejumlah elemen masyarakat akhir-akhir ini. Negeri ini tidak baik-baik saja. Ibu pertiwi sedang bermasalah. Sebagai bukti kecintaan terhadap tanah air, maka umat turun ke jalan. Bukan untuk makar. Tapi untuk muhasabah terhadap penguasa.

Demo besar-besaran yang berlangsung tertib ini merupakan kelanjutan dari aksi sebelumnya yang dilakukan para mahasiswa dan pelajar berseragam abu-abu dari Sekolah Menegah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Teknik Menengah (STM). Umat semakin kritis. Kondisi negeri yang sakit dan membutuhkan penanganan segera, terindera.

Berbagai peristiwa politik yang terjadi di sekitar umat, akhirnya mampu menggerakkan nurani untuk menyuarakan keadilan. Sejumlah Undang-undang (UU) dibahas tanpa memperhatikan opini publik, pengesahan UU yang serba kilat, kasus Papua, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah merobek nilai-nilai kebenaran yang ingin ditegakkan umat.

Tayangan kezaliman dipertontonkan media, terlihat oleh seluruh kalangan. Semua menyaksikan adanya ketidakmampuan penguasa menjaga hak umat. Kesewenangan terjadi di mana-mana. Kondisi sejahtera semakin sulit dijangkau. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Aktor utama pelaku kerusakan, harus dienyahkan. Dia adalah demokrasi.

Ia yang digadang-gadang memberi ruang terhadap kebebasan mengemukakan pendapat, ternyata menutup seluruh pintu aspirasi umat. Parlemen pun tidak diduduki oleh wakil rakyat, akan tetapi wakil dari pemilik modal. Sebab mereka berpihak hanya pada para kapital. Suara umat tidak didengar. Sehingga menyebabkan terpisahnya perasaan umat dengan penguasa negeri.

Maka aksi turun ke jalan, sebagai pengingat pada penguasa, bahwa umat berhak atas pengurusan yang benar. Mereka pun ingin perubahan hakiki. Metode perubahan yang ditawarkan penguasa tidak sungguh-sungguh memenuhi hajat hidup. Oleh sebab itu, umat mendesak untuk kembali pada akidahnya.

Akidah yang sahih memuat solusi bagi seluruh permasalahan, kini menjadi tuntutan yang semakin kuat dan sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Sebab dengan Islam dipastikan umat kembali memimpin peradaban dunia. Mengalahkan seluruh kekuatan dominasi pemikiran kufur yang menjajah dan menindas.

Islam memerintahkan untuk menolak berbagai bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah. Sejatinya seorang muslim tidak akan diam melihat kemungkaran. Baik itu menimpa diri, umat atau negerinya. Setiap langkah mujahid, layaknya rombongan Umar dan Hamzah yang bergerak mengitari Ka’bah, lantang meneriakkan kebenaran.

Para mujahid mendeklarasikan Islam sebagai agama yang haq, yang dengannya akan runtuh seluruh kekuatan jahat. Inilah yang akan menyelamatkan bumi pertiwi, memperbaiki kerusakan akibat demokrasi. Tak perlu sembunyi-sembunyi. Islam sebagai agama rahmat seharusnya memang diterapkan di tengah umat. Al Islaamu ya’lu wa laa yu’laa alaihi.

Lulu Nugroho
Muslimah Penulis dari Cirebon

Artikel Terkait

Back to top button