#IslamofobiaMUHASABAH

Islamofobia di Antara Kita

Sekitar tahun 1981. Saat masih menjadi reporter majalah bulanan Media Dakwah di Jakarta, saya ketemu banyak tokoh penting eks Partai Masyumi. Di kantor pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jalan Kramat Raya 45 itu.

Sebagai para politisi partai pemenang pemilu pertama 1955, mereka memang sering berkumpul di situ. Bukan untuk sekadar kangen-kangenan. Atau untuk sekadar bernostalgia. Membincangkan kenangan lama saat masih jaya. Tapi untuk bersama-sama tetap memikirkan perjalanan bangsa.

Mereka sering melakukan pertemuan rutin. Merapatkan barisan, menghadapi tekanan pemerintahan Orde Baru yang otoriter. Menafsirkan bersama kondisi yang berlaku terhadap umat Islam kala itu.

Hal itu terjadi setelah Dr. Mohammad Natsir dan kawan-kawan mendirikan DDII. Sebagai wadah perjuangan. Setelah tidak diperbolehkan lagi menghidupkan kembali partai Masyumi. Yang oleh pemerintahan Orde Lama dinyatakan sebagai partai terlarang. Sesuai dengan kalimat Natsir yang terkenal: “Dulu, berdakwah lewat politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah.”

Selain Ketua DDII Dr. Mohammad Natsir, kami seringkali ketemu Dr. Burhanudin Harahap. Mantan perdana menteri dari Masyumi itu. Begitu juga mantan perunding handal Mr. Mohamad Roem. Yang terkenal dengan Roem-Royen Statement. Mantan Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Syafrudin Prawiranegara. Begitu juga sejumlah nama besar seperti Mr. Kasman Singodimejo, HM. Yunan Nasution, Buya Zainal Abidin Ahmad (ZAA), Dr. Anwar Haryono, H. Nawawi Duski dan lain-lain. Semuanya sudah mendahului kita. Jazakumullah khairal jaza’. Atas perjuangan mereka yang tidak kenal lelah. Sampai hembusan nafas yang terakhir.

Tapi di antara sekian banyak tokoh yang memberikan perhatian kepada kami para wartawan yang masih muda-muda, Buya ZAA-lah yang sering mengajak bicara. Memberikan semangat agar kami menulis secara produktif. Sehingga kami merasa dekat dengan beliau. Karenanya di waktu-waktu luang kami sering mampir ke rumah beliau di Jalan Darmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta. Terutama saya dan sahabat saya H. Aru Syeif Fachrudin. Yang sekarang memimpin tabloid dan media daring Suara Islam.

Tidak terlalu jauh rasanya bagi kami naik sepeda motor dari Jalan Kramat Raya 45 menuju kawasan Senopati di Kebayoran Baru itu. Menyusuri Jl. Kramat Raya, Salemba Raya, Diponegoro, Sudirman, sampai berbelok ke kiri ke arah Senopati. Untuk bertemu beliau. Sekaligus mendapatkan petuah-petuah beliau.

Dalam bincang-bincang santai, beliau sering memberikan arahan. Tentang pentingnya para wartawan muda memiliki tempat berpijak yang jelas. Mempertahankan integritas sebagai orang-orang yang memperjuangkan Islam dan umat Islam. Lewat karya-karya jurnalistik yang memiliki haluan.

“Rajin-rajinlah menulis. Perjuangkan terus umat kita yang teraniaya ini! Kalau perlu bahan, sering-seringlah datang kemari,” ujarnya kepada kami.

Beliau memiliki semangat yang besar. Untuk membimbing generasi muda. Agar punya ghirah keislaman yang kokoh. Memiliki akidah yang kuat. Apalagi sebagai para calon penyebar dakwah. Dalam bentuk lisan maupun tulisan. Yang tak putus berjuang untuk menegakkan kalimah “ballighu ‘anniy walau ayah”. Sampaikanlah tentang Aku, walaupun satu ayat.

Sayangnya, beliau terlalu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa. Tahun 1983, beliau menutup mata untuk selamanya dalam usia 72 tahun. Dengan meninggalkan begitu banyak karya jurnalistik yang Islami. Baik dalam bentuk majalah maupun buku-buku. Yang di era itu sangat diminati pembaca.

Selain Almarhum Buya Hamka, Almarhum Buya ZAA adalah juga penulis handal dari Ranah Minang. Yang karya-karyanya banyak mengupas persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam. Terutama tentang cita-cita untuk menegakkan syariat Islam. Bagi beliau, yang paling pokok adalah agar tuntunan ajaran Islam itu bisa direalisasikan secara nyata. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak penting apakah namanya negara Islam atau bukan.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button