#IslamofobiaSURAT PEMBACA

Islamofobia: Upaya Adu Domba Umat Islam

Tahun ke tahun, upaya mengotak-kotakan umat Muslim semakin terasa. Semakin banyak cara yang dilakukan pembenci Islam dalam menghancurkan kepercayaan antarumat Muslim.

Islamofobia itulah yang sekarang semakin digencarkan. Islamofobia merupakan rasa takut berlebihan yang ditujukan kepada Islam. Fakta sejarah mengatakan, bahwa ini muncul diawali dengan kasus 11 September 2001 yang mengatasnamakan Islam. Selain itu memang perkembangan Islam di dunia Barat semakin pesat. Tidak sampai di sana, saat ini bukan hanya dunia Barat yang mengupayakan Islamofobia tersebut, tampak terasa terjadi di beberapa negara termasuk di Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia, tidak disangka bahwa Islamofobia yang terjadi begitu gencar. Banyak sekali fakta-fakta terbaru yang membuktikan bahwa adu domba umat Islam sangatlah terasa. Berita terbaru yang menggemparkan dunia kuliner beberapa waktu lalu, munculnya sebuah postingan yang mengatakan bahwa “Kue klepon tidak Islami, yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami”, lengkap dengan foto klepon dan logo sebuah toko yang bernama Abu Ikhwan Aziz.

Hal tersebut menimbulkan keributan di sosial media sampai saat ini, karena ini menggiring masyarakat mulai mengolok-olok Islam itu sendiri. Sebagian warganet menelusuri nama toko yang membuat postingan tersebut dan ternyata mereka tidak menemukan apapun dalam pencariannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hal ini hanya digunakan untuk memancing keributan di social media.

Selain itu Islamofobia juga mulai merambah di dunia pendidikan. Dikutip dari CNN Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) melakukan revisi terhadap konten-konten ajaran terkait khilafah dan jihad dalam pelajaran agama Islam di madrasah. Hal itu ditegaskan dalam Surat Edaran B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019 yang ditandatangani Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Ahmad Umar.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengonfirmasi surat edaran tersebut. Dia menjelaskan Kemenag tak menghapus konten ajaran khilafah dan jihad, melainkan diperbaiki. Diapun menjelaskan bahwa konten khilafah dan jihad tidak dihapus sepenuhnya dalam buku yang akan diterbitkan. Makna khilafah dan jihad akan diberi perspektif yang lebih produktif dan kontekstual.

Khilafah hanya akan diajarkan sebagai sejara umat Islam yang pernah terjadi, bukan menjadi bagian dari pelajaran Fikih lagi. Padahal jelas semua sumber hukum syara’ mmenunjukan bahwa Khilafah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap umat Muslim. Khilafah dianggap sudah tidak cocok dengan konteks negara saat ini yang telah memiliki konstitusi.

Masih terus berkembang penyebaran Islamofobia, pekan ini digemparkan lagi dengan sebuah aksi dari kelompok pendukung salah satu partai di Indonesia. Aksi ini disertai dengan pembakaran poster Imam Besar Habib Riziq Syihab. Mereka menganggap bahwa HRS harus dibumihanguskan. Ada wanita yang menyebutkan bahwa HRS hanya penjual minyak wangi yang mengaku Habib.

Begitulah beberapa fakta yang menunjukan semakin banyak kaum pembenci Islam termasuk pembenci para ulama yang berjuang dalam mendakwahkan Islam. Berbagai macam cara dan tindakan yang dilakukan secara masif dalam memadamkan cahaya agama Allah dan membungkam para aktivis serta pengemban dakwah Islam. Mulai dari segelintir orang, sekelompok orang, pemangku jabatan dan lain sebagainya.

Situasi ini tidak akan berakhir selama sistem sekularisme masih dipertahankan. Memang inilah yang diupayakan Barat dalam mempertahankan ideologinya sehingga umat Muslim benar-benar jauh dari ajaran agamanya. Hal tersebut didukung dengan pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Dia mengatakan bahwa akan terus mempromosikan nilai-nilai demokrasi hak-hak asasi, norma-norma dan nilai-nilai. Serta pernyataannya dalam pertemuan pribadi dengan beberapa pemimpin dunia, tidak akan ada solusi yang komprehensif untuk terorisme Islam sampai Islam menyatukan diri dengan modernitas dan mengalami beberapa reformasi yang telah mengubah Kristen.

Munculnya istilah-istilah yang disematkan untuk umat Muslim seperti Islam moderat, tradisionalis, fundamentalis dan ekstrimis juga sebagai senjata mereka untuk memecah belah dan mengotak-kotakan umat Muslim dunia. Padahal, hal yang wajar ketika umat Muslim ingin menjalankan kehidupannya sesuai dengan ajaran agamanya, karena itulah bagian dari konsekuensi ketaatannya kepada Sang Pencipta, terlebih lagi di Indonesia yang mayoritas memang umat Muslim.

Namun, kenyataannya sebuah ketaatan terhadap agamanya malah disematkan sebagai hal radikal dan ektrimis dalam definisi negatif. Sesungguhnya kaum kafir adalah kaum yang meyakini kebenaran Islam hanya mereka menafikan segala kebenaran yang baku dalam Islam. Pernyataan Islam adalah satu-satunya agama yang benar dikatakan sebuah pernyataan yang tidak toleran. Selamanya sekularisme dan liberalisme hanya semakin menyuburkan Islamofobia di tengah-tengah umat.

Islamofobia ini hanya bisa dihapus dengan cara menyadarkan umat bahwa ketaatan kita kepada Allah seharusnya secara kaffah atau keseluruhan. Ber-Islam kaffah merupakan konsekuendi keimanan kita jika memang kita mengaku sebagai umat Muslim. Tidak dibenarkan jika kita hanya memilih sebagian ajaran agama Islam dan mengesampingkan atau bahkan membuang sebagian lainnya, karena Islam bukan sekadar agama spiritual semata layaknya agama lainnya.

Upaya mengedukasi diri agar tidak mudah termakan hoaks apalagi framing negatif yang dilakukan para pembenci Islam wajib kita lakukan agar tidak teraruskan dengan Islamofobia ini, sehingga kita bisa mengetahui dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Perlu kita pahami bahwa memang Islamofobia adalah upaya Barat untuk menghalau kebangkitan Islam Ideologis (peradaban Islam). Maka dari itu, jangan pernah sekalipun kita mundur dalam perjuangan ini atau malah termakan dengan upaya adu domba yang dilakukan pihak barat. Rekatkan ukhkuwah Islamiyah dalam menyongsong kebangkitan Islam yang hakiki dan jauhi perdebatan yang hanya seputar perbedaan dan fokuskan diri kita dalam memperjuangkan agama Allah. Wallahu’alam []

Albayyinah Putri, ST.
Alumni Politeknik Negeri Jakarta

Artikel Terkait

Back to top button