#Gaza Under AttackMUHASABAH

Jika Tidak Malu, Berbuatlah Semaumu

Kembali darah syuhada tumpah pada Selasa lalu (12/11), saat Israel melancarkan serangan ke Gaza, menargetkan basis kelompok Jihad Islam. Tel Aviv menuding kelompok tersebut telah melakukan serangkaian serangan lintas-perbatasan dan merencanakan serangan lainnya. Serangan ke distrik Shejaia Gaza itu menewaskan Komandan Jihad Islam di Gaza, Baha Abu Al-Atta dan isterinya.

Akan tetapi pada akhirnya, tidak hanya basis Jihad Islam yang dihabisi pasukan Israel, rakyat sipil pun tewas. Rangkaian serangan udara yang dilancarkan pesawat tempur zionis Israel menargetkan rumah-rumah, lahan pertanian, ladang sayuran, peternakan unggas milik warga, rumah peristirahatan, dan pos-pos perlawanan di berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Serangan semena-mena merusak kehidupan dan melukai perempuan serta anak-anak saat mereka tidur lelap. Sehingga utusan Khusus PBB untuk Perdamaian Timur Tengah Nickolay Mladenov bereaksi mengutuk penggunaan roket dan mortir tanpa pandang bulu. Dia mendesak Israel dan Jihad Islam agar menahan diri.

Setelah dua hari pertempuran sengit, akhirnya keduanya melakukan gencatan senjata dengan Mesir sebagai penengah. Suasana menjadi tampak agak tenang. Meskipun banyak korban luka dan meninggal di Palestina, akan tetapi serangan ke wilayah Selatan Israel tak pelak melumpuhkan pihak zionis.

Sayangnya para pemimpin negeri muslim masih melihat bahwa Israel memiliki hak yang sama atas tanah Palestina. Sehingga solusi yang ada, tak lebih dari mediasi atau melalui jalur perundingan. Bukan dengan mendatangkan kekuatan pasukan tempur melawan penjajahan, membalas pembunuhan dengan membunuh balik musuh-musuh Islam.

Israel yang dulunya datang ke wilayah Palestina, lebih dari seratus tahun lalu, tak lebih hanya sebagai pendatang. Pengungsi yang tidak memiliki tempat tinggal. Mereka ditolak di seluruh dunia. Nyaris tidak ada tempat berlindung bagi Yahudi kala itu, kecuali bernaung di tanah Islam. Khilafah Turki Utsmani memberi perlindungan bagi mereka.

Kini kondisi berbalik. Yahudi Israel membalas kebaikan penguasa muslim, dengan kekejian yang berkepanjangan. Terlihat jelas, tanpa Khilafah, umat terpecah belah menjadi serpihan. Tanpa pemimpin, umat tidak memiliki wibawa. Musuh menginjak-injak sesuka hati.

Tidak hanya itu, umat pun kehilangan arah, tidak punya tujuan kehidupan yang hakiki. Hingga tidak mampu lagi membedakan mana kawan, mana lawan. Apalagi para pemimpin negeri muslim malah bergandengan mesra dengan musuh Islam. Inilah yang membuat dunia bungkam.

Akibatnya Palestina berjuang sendirian. Tidak ada penolong. Tidak dari PBB. Tidak juga ada satu pemimpin negarapun yang mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina. Padahal mereka telah menjerit, meraung selama bertahun-tahun memohon pertolongan dari saudara-saudaranya yang berada dalam satu tubuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” HR. Al-Bukhari (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma, lafazh ini milik Muslim.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button