SURAT PEMBACA

Kala Idola Terjerat Narkoba, Haruskah Mengikuti Jejaknya?

Belum lama komedian senior tertangkap tengah mengkonsumsi narkoba, kini giliran idola muda yang ikut terseret dalam pusarannya. Tepat di tanggal 22 Juli 2019 di Kemang Jefri Nichol tertangkap dengan barang bukti 6,01 gram ganja.

Efek penangkapan Jefri Nichol membuat namanya melambung hingga menjadi trending topik dunia. Banyak yang tidak percaya bahkan menyayangkan kabar tersebut. Di tengah kegemilangan karir yang tengah diraih namun harus terperosok pada jalan yang salah.

Apalagi alasan yang melatar belakangi penggunaan ganja yaitu agar bisa lebih rileks dan beristirahat dengan baik. Karena selama ini jadwal yang dimiliki kelewat padat serta tuntutan pekerjaan yang tinggi.

Aktor yang terkenal melalui perannya di film Dear Nathan, dikenal sebagai sosok yang baik oleh lingkungannya. Namun perlu kita ketahui, baik jika dalam pandangan manusia itu relatif. Jadi setiap orang memiliki standar yang berbeda. Sedangkan dalam Islam standar perbuatan manusia itu jelas yakni berupa hukum syara’. Jadi, baik dan buruknya suatu perbuatan dinilai dari syara’.

Dalam keterangannya Jefri Nichol ini ternyata memiliki banyak teman pemakai. Bahkan sempat beberapa kali ditawari dan selalu sukses menolak karena saat itu ia memiliki mental yang kuat. Namun naas kini kesibukannya telah membuatnya mengambil jalan pintas. Disinilah kita perlu yang namanya berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Karena sifat seorang teman bisa menular. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]

Oleh karena itu kita harus lebih selektif dalam memilih teman. Bukan berarti menjauhi mereka yang terjerumus dan meninggalkannya. Berempati juga boleh tetapi bukan dengan mengikuti jalan mereka. Karena sesungguhnya mereka merupakan korban dari penerapan sistem sekuler-liberalisme.

Kehidupan sekuler menjadi dalang terperosoknya manusia pada jeratan narkoba. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan melahirkan manusia yang bebas tanpa aturan. Hedonisme menjadi tujuan.

Manusia yang dipisahkan dari aturan Allah, lebih memilih mencari solusi dari setiap permasalahan melalui akal bahkan lebih memilih melampiaskan pada hal-hal yang merugikan. Kebebasan tanpa aturan membuat orang berbuat sesuka hati. Memberi ruang bagi penggunaan obat terlarang, terlebih ketika hukum juga tidak menindak tegas. Sehingga memberi ruang bagi bandar serta pengedar.

Bahkan ironisnya mereka yang telah tertangkap masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Terlebih ketika oknum penegak hukumnya masih bisa diajak kompromi.

Terjeratnya idola dalam pusaran narkoba harusnya menjadi cambuk pelajaran. Bahwa mereka yang kita elu-elukan merupakan manusia biasa yang bisa berbuat salah. Sadar atau tidak, ketika kita terlalu mengidolakan seorang bintang, kita mati-matian mengikuti seluruh perkembangan kabar ter-update. Rela menabung agar bisa melihat penampilannya, jauh-jauh hari meluangkan waktu, mengikuti gaya hidup serta pakaiannya dan berusaha mati-matian agar setidaknya bisa disapa meskipun hanya lewat dunia maya.

Harusnya kita introspeksi diri, mengaku bersyahadat namun urusan dengan Allah SWT masih suka kelewat. Mengaku umatnya Rasulullah SAW namun tidak pernah tahu tentang kesukaannya, sesuatu yang dibenci, sahabat-sahabatnya, kebiasaannya dan masih banyak lainnya.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: al-Ahzab: 21).

Padahal telah ada idola yang dijamin kesempurnaannya oleh sang pencipta jagad raya. Tutur kata dan perilakunya merupakan refleksi dari Alquran. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara telah beliau contohkan. Apalagi yang kurang?

Hendaknya kita mengikuti jalan yang telah dicontohkan. Agar selamat baik di dunia maupun di akhirat. Tak akan ada lagi galau urusan dunia, apalagi cari pelampiasan dengan menggunakan narkoba. Karena iman yang melekat dalam dada akan menjadi kontrol dari perbuatan sia-sia. Keimanan yang terbentuk dalam skala masyarakat juga mampu menjadi kontrol bagi kemaksiatan. Karena amar ma’ruf nahyi munkar menjadi kewajiban yang harus ditegakkan. Terlebih ketika negara mengambil perannya dalam mengatasi narkoba. Memberi sanksi yang tegas bagi pelaku akan memberikan efek jera. Serta berbagai kebijakan dan keamanan berlapis akan dilakukan, agar tidak kecolongan sehingga terjadi penyeludupan barang yang diharamkan.

Keimanan secara individu, masyarakat dan negara hanya bisa terbentuk dan terjaga ketika mengikuti jejak Rasulullah SAW. Yakni melalui penerapan syariat Islam secara total sebagaimana diterapkan di Madinah hingga Turki Ustmani. Sebuah pemerintahan yang di sebut Khilafah.

Allah SWT berfirman: “ … Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyr: 7).

Wallahu ‘alam bishawab.

Kunthi Mandasari
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Artikel Terkait

Back to top button