OPINI

Kalung Eucalyptus, Sesakti Apa?

Antivirus bentuk kalung ini adalah hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Meski belakangan, kalung anticorona itu sudah direvisi. Berganti nama menjadi kalung Eucalyptus. Lebih mirip arometarapi. Berbahan sama, bentuknya saja yang berbeda.

Terobosan baru Kementerian Pertanian membuat heboh nusantara. Kementerian Pertanian akan memproduksi kalung antivirus corona bulan depan. Kalung ini diklaim bisa membunuh virus corona. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kalung yang akan diproduksi merupakan racikan dari ramuan antivirus berbahan eucalyptus (kayu putih).

Kementerian pertanian menyatakan bahwa kalung antivirus corona bukanlah obat. Tapi produk kesehatan yang akan dipasarkan melalui pihak ketiga atau swasta. Perusahaan yang dimaksus adalah perusahaan yang bergerak di bidang minyak berbahan dasar eucalyptus.

Kalung antivirus corona pun mendapat beragam komentar dari warganet. Ada yang berkata, “Penemuan apalagi ini saudara-saudara setanah air? Benar jadi kayak jimat”. Ada juga yang menyeletuk, “Bentar lagi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) buat status ngakak lihat Indonesia memproduksi #KalungAntiBego”.

Ada-ada saja ide Kementan. Mau tertawa kok seperti tak menghargai usaha pejabat negara. Mau berbangga juga masih meragukan. Bukan pesimis. Hanya saja, mencoba berpikir realistis. Memang belum ditemukam vaksin baku untuk virus covid-19. Para ilmuan dunia juga masih dalam tahap mengembangkan penelitian. Belum ada yang diujicobakan ke manusia. Upaya Kementan untuk mencari obat untuk corona patut dihargai. Meski agak anti mainstream.

Sebelum memproduksi kalung anticorona, sebaiknya pemerintah melalui Kementerian Pertanian mempertimbangkan hal-hal berikut:

Pertama, produk kesehatan. Sebelum kalung anticorona ramai diperbincangkan, ada produk jamu yang pernah diiklankan tiga pasien sembuh dari corona yang videonya lumayan viral. Saat itu, minum jamu dipercaya menangkal virus. Jamu yang dimaksud adalah tanaman herbal seperti kunyit, jahe, temulawak, sereh, jeruk nipis, dan sebagainya. Ditambah riset dari peneliti bernama Prof dr Chairul Anwar Nidom yang pernah mengatakan empon empon mampu menangkal virus dan meningkagkan imunitas tubuh. Dari penelitian itu, empon empon pun laris diburu masyarakat.

Produk kesehatan berupa tanaman herbal memang dikenal memiliki khasiat sejak dulu. Hanya saja, bila produknya berupa kalung berbahan kayu putih, benarkah sesakti itu bisa membunuh virus corona? Pasalnya, Direktur McGill OSS, Profesor Joe Schwarcz, mengungkapkan fakta lain dari informasi yang beredar viral soal kayu putih bisa mengatasi virus corona.

“Andai saja sesederhana itu,” tulis McGill OSS mengawali pernyataan tanggapan soal khasiat kayu putih membunuh virus corona. “Jika semua orang harus menghirup kayu putih untuk mencegah virus SARS-CoV-2 supaya tak menginfeksi saluran pernapasan, kekhawatiran kita soal COVID-19 akan berakhir,” lanjut laporan itu. Menurut laporan itu, tidak ada senyawa bernama 1,8 Epoxy-p-Metana yang diklaim banyak terkandung di kayu putih. “Siapa pun yang berlatar belakang kimia, pasti tahu itu.” (kumparan, 4/7/2020)

Kedua, ladang bisnis. Mengapa kalung anticorona bisa menjadi ladang bisnis? Karena Kementerian Pertanian bakal menggandeng swasta dalam proses produksinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kalung itu berpotensi diperjualbelikan. Tidak gratis. Padahal semestinya bila memang berniat memberi solusi, ya harusnya gratis. Jangan sampai kalung anticorona ini bernasib sama seperti tes massal rapid test. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan pandemik untuk meraup untung besar.

Ketiga, memberi kesan bekerja. Publik sudah menilai bagaimana pemerintah bekerja selama mengatasi pandemik corona. Kerjanya banyak yang tidak beres dan belum selesai. Banyak problem dan mekanisme pelaksanannya kacau balau. Inilah yang disoroti masyarakat. Mungkin dengan membuat kalung, Kementerian ingin memperbaiki muka di masyarakat. Harus ada hasil kerja.

Padahal bila merujuk pada fungsi Kementerian, semestinya Kementan bekerjasama dengan Kemenkes selaku lembaga yang berwenang terhadap wabah corona. Sayangnya, kedua lembaga itu nampak tak optimal bekerja. Dana Kemenkes juga sempat disinggung Presiden dalam pidato rapat evaluasi beberapa waktu lalu. Kemenkes sendiri belum mengetahui secara detil perihal tersebut. Namun, Menteri Kesehatan, Terawan Agus mengatakan jika kalung itu secara psikologis dan mentality membuat orang percaya dan yakin, imunitasnya bisa naik menghadapi covid-19. Komentar yang cukup menggelikan.

Mengatasi pandemik corona membutuhkan keseriusan dan kesungguhan. Harus ada kebijakan yang bertujuan menyelamatkan kesehatan rakyat. Jangan hanya melulu berpikir ekonomi dan citra diri. Pejabat negara yang dididik dalam sistem egois seperti kapitalisme memang tak sepenuh hati. Terlalu kikir dan mau menang sendiri.

Kapan rakyat bisa menikmati kesehatan gratis? Kapan rakyat bisa mendapat jaminan ekonomi yang mapan? Kapan rakyat bisa merasakan sistem yang berkeadilan dan berperikemanusiaan? Semua itu tak dapat dirasakan selama paradigma bernegara menggunakan ideologi kapitalisme. Kesejahteraan bagai ilusi dan mimpi.

Bagaimana Islam menyikapi? Islam itu simpel. Terapkan karantina wilayah, tetapkan jaminan hidup bagi rakyat terdampak, beri insentif selama pandemik bagi mereka yang mencari nafkah, dan beri dukungan fasilitas bagi para ilmuan untuk menciptakan obat atau vaksinnya. Bagi yang berada di zona hijau, roda ekonomi tetap berjalan. Begitulah Islam memberi solusi praktis. Dimulai sejak kasus pertama muncul. Serius, tegas, dan tanggap. Tidak meremehkan sebagaimana rezim hari ini bekerja.

Kalau sistem kapitalisme tak mampu membawa perubahan lebih baik, tentu kita layak berkaca pada sistem Islam yang terbukti membawa perubahan pada dunia. Kontribusi Islam pada dunia luar biasa. Baik dari sisi politik, ekonomi, sosial, sains dan teknologi. Pertanyaannya, maukah kita mencoba sistem Islam yang sudah teruji kehebatannya? Wallahu a’lam bish-shawab.

Chusnatul Jannah

Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close