#Ramadhan 1441 HIBADAH

Kapan Turunnya Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar adalah malam yang dikabarkan oleh Allah Swt sebagai malam kemuliaan, dimana nilai keberkahan malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Para malaikat dan malaikat Jibril turun ke dunia menebarkan salam hingga terbit fajar.

Allah Swt menerangkan hal itu dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 1-5).

Lailatul Qadar terjadi hanya dalam bulan Ramadhan. Hanya saja, pada malam keberapa Ramadhan? Inilah yang dirahasiakan oleh Rasulullah Saw. Beliau hanya memberikan isyarat untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir.

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwattha’ dari Abi Said al-Khudri yang berkata, “Adalah Rasulullah Saw beri’tikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah sampai beliau pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada pagi harinya, beliau berkata: “Barang siapa turut beri’tikaf bersamaku, hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang akhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam al-qadar.” Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di puluhan yang akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Said: “Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun korma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu malam ke-21.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Carilah dengan segala daya upaya malam al-qadar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Umar bahwa Nabi Saw bersabda: “Maka barang siapa yang hendak mencari malam al-qadar, carilah pada malam tujuh yang akhir.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibn Umar bahwa Nabi bersabda: “Carilah lailatul qadar pada puluhan yang akhir; jika seseorang kamu lemah mencari, maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tujuh yang terakhir.”

Imam Al-Qurthubi menyebut jumhur ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke-27 mengingat hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Ubai bin Ka’ab yang berkata, saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Malam al Qadar adalah malam keduapuluh tujuh.”

Juga, hadits yang diriwayatkan Muslim dari Zar bin Hubaisy, beliau berkata, saya berkata kepada Ubay bin Ka’ab: “Saudara anda Abdullah ibn Mas’ud mengatakan bahwa barang siapa mengerjakan qiyamul lail sepanjang tahun, niscaya dia memperoleh lailatul qadar.” Maka Ubay menjawab: “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa Abu Abdir Rahman. Demi Allah dia mengetahui bahwa lailatul qadar di puluhan akhir dari bulan Ramadhan di malam 27. Tetapi dia mengatakan yang demikian, supaya manusia tidak memudah-mudahkan saja.” Kemudian Ubay bersumpah bahwa lailatul qadar di malam 27. Berkata Ibn Hubaisy: “Apa alasan anda mengatakan demikian.” Ubay menjawab: “Tanda-tandanya yang Rasulullah kabarkan yaitu ‘matahari terbit di pagi hari tanpa sinar.”

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tersembunyi pada sepuluh malam terakhir (asyril awakhir). Prof. Hasbi Ash-Shiddiqqie menjelaskan dalam bukunya, “Pedoman Puasa”, menurut para ulama salaf penyembunyian waktu lailatul qadar adalah agar kita menghidupkan semua malam (dalam bulan Ramadhan). Wallahu a’lam bissawab.

Artikel Terkait

Back to top button