OPINI

Kashmir yang Terisolir

Tidak semua umat Islam bahagia di Hari Raya. Salah satunya adalah muslim Kashmir. Penduduk Kashmir merayakan Hari Raya Idul Adha atau disebut Bakra Adha dalam bahasa lokal, dengan penuh keprihatinan. Antrean panjang tampak mengular di sejumlah anjungan tunai mandiri (ATM) dan toko-toko makanan. Akan tetapi ATM kehabisan uang, begitu pula toko makanan.

Jaringan komunikasi mati. Internet dan telekomunikasi diputus, telepon tidak bisa digunakan. Padahal Pemerintah India telah melonggarkan jam malam. Perdana Mentri India Narendra Modi dalam pidatonya mengatakan, orang-orang Kashmir dapat merayakan Idul Adha tanpa masalah. Akan tetapi pada faktanya, hidup dalam blokade adalah kondisi yang tidak wajar. (Republika.co.id, 12/8/2019).

Kawat berduri dan pos pemeriksaan terdapat di mana-mana. Sejumlah besar pasukan di jalan, memperketat keamanan. Sempat memicu protes ribuan warga, yang akhirnya 300 politisi ditangkapi akibat seringnya mereka menuntut kemerdekaan dari India. Tidak hanya diisolasi, Kashmir kini dalam pengawasan.

Kashmir merupakan satu-satunya wilayah di India yang berpenduduk mayoritas Muslim. Sejak merdeka dari Inggris pada 1947, Kashmir ingin bergabung ke Pakistan. Akan tetapi pemimpinnya, Maharaja Hari Singh yang beragama Hindu, memilih India. Akhirnya Kashmir terpecah, dua pertiga dikuasai India, sisanya milik Pakistan.

Wilayah itu kemudian dipisahkan dengan garis Line of Control (LoC). Ada tiga negara: Pakistan mengontrol barat laut, India mengontrol tengah dan selatan Jammu dan Kashmir, serta Republik Rakyat Tiongkok menguasai timur laut (Aksai Chin). Sekalipun begitu, di Jammu dan Kashmir, pemeluk agama hidup berdampingan dengan damai. Dari agama Budha, Hindu, dan Islam.

Kashmir merupakan salah satu wilayah rebutan terkenal di dunia, dan kebanyakan peta buatan Barat menggambarkan wilayah ini dengan garis bertitik untuk menandai batasan yang tidak pasti. India tidak menganggap Pakistan dan China berhak atas wilayah tersebut. Sedangkan bagi Kashmir sendiri, yang diinginkan adalah kemerdekaan.

Perselisihan akibat sengketa Kashmir telah membuat India dan Pakistan tiga kali berperang, yakni pada 1948, 1965, dan 1971. Selain itu, instabilitas politik terus terjadi di Kashmir. Kashmir juga dikontrol oleh Tiongkok. Ini adalah sengketa yang panjang memperebutkan wilayah negara, selain Palestina dan Israel di tahun 1948.

Akan tetapi pada November 2003, Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee bertemu dengan Presiden Pakistan Pervez Musharraf di Islamabad untuk menjalin hubungan diplomatik, usai India menyetujui usul gencatan senjata di Kashmir. Hubungan baik terus berlanjut antara dua negara. Hingga 21 Oktober 2008 jalur perdagangan pakaian, rempah dan buah, dibuka melewati batas kekuasaan Kashmir.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button