OPINI

Kemana Ujung Kerusuhan Ini?

Start of the end. Itulah nasihat ahli manajemen. Ini berlaku juga bagi aktor-aktor di balik kerusuhan di tanah air yang saat ini sedang memanas.

Kerusuhan diawali dengan terbunuhnya pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan. Ia wafat ditabrak oleh kendaraan rantis politi. Ada tujuh orang pengendaranya dan kini sedang diadili.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba kerusuhan merebak. Beberapa markas polisi dibakar, rumah rumah anggota DPR dijarah, gedung-gedung DPRD di beberapa daerah dibakar dan lain-lain.

Aksi tidak lagi hanya dilakukan oleh pengemudi ojek online, tapi juga oleh mahasiswa dan rakyat umum. Entah siapa yang menggerakkan, tiba-tiba massa datang kepada suatu tempat melakukan pembakaran dan penjarahan, kemudian pindah ke tempat lain lagi.

Beredar informasi, bahwa hari ini dan Senin besok (01/9) aksi akan terus berlangsung. Memang aksi ini belum persis seperti kerusuhan 1998. Kebetulan penulis meliput langsung kerusuhan 98, jadi sedikit tahu tentang peristiwa yang berlangsung saat itu.

Saat itu massa di Jakarta yang diserukan adalah anti Soeharto dan anak-anaknya. Mahasiswa, massa rakyat (dan cendekiawan bersatu). Saat itu massa benar-benar beringas. Penulis melihat langsung bagaimana sebuah kendaraan didorong untuk menabrak pom bensin sehingga timbul kebakaran besar. Kejadian di Jakarta Barat.

Di daerah Jalan Salemba-Kramat, penulis melihat bagaimana massa mengeluarkan mobil-mobil dari showroom dan kemudian membakarnya di jalan raya. Massa menyerbu mall-mall di Jakarta dan menjara berbagai barang di sana. Ada sebuah mall di Jatinegara yang dibakar dan menimbulkan puluhan korban (ini penulis baca di media, tidak melihat langsung). Saat itu penulis memotret peristiwa kerusuhan itu dan menghabiskan dua rol film. Sayang dokumentasi foto itu saya titipkan ke beberapa orang, hilang.

Demo mahasiswa menurunkan Soeharto saat itu berlangsung bukan sehari dua hari. Tapi berminggu-mingggu, sehingga merembet ke daerah-daerah. Puncaknya mereka menguasai gedung DPR MPR dan ‘memaksa pimpinan DPR/MPR’ saat itu untuk menyerukan pengunduran diri Soeharto.

Sementara massa melakukan perusakan di berbagai daerah, kelompok cendekiawan yang anti pak Harto, membuat pernyataan sama dengan mahasiswa: Pak Harto harus mundur. Dan sejumlah menteri (kelompok elit) ikut menekan Pak Harto juga. Mereka mengundurkan diri bersama-sama.

Akhirnya menghadapi tekanan: Jakarta dan berbagai daerah dibakar, mahasiswa dan banyak kelompok cendekiawan bersatu dan sejumlah menterinya mengundurkan diri, maka Pak Harto akhirnya mundur jadi presiden.

Ketika Pak Harto mundur itulah massa menjadi terbelah. Massa kelompok Islam ingin yang menggantikan Pak Harto adalah Habibie sedangkan ‘massa kelompok non Islam/kiri’ menginginkan yang mundur bukan hanya Soeharto tapi juga Habibie. Betul-betul saat itu Indonesia ‘terbelah’.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button