#Bubarkan BPIPSURAT PEMBACA

Kepala BPIP Bikin Gaduh Lagi, Mau Ganti Assalamualaikum dengan Salam Pancasila?

Setelah menyebut agama adalah musuh terbesar Pancasila, kemudian melontarkan pernyataan terkait konstitusi harus di atas kitab suci dalam bernegara, sekarang Kepala BPIP Yudian Wahyudi kembali membuat kegaduhan dengan usulan mengganti Assalamualaikum dengan Salam Pancasila.

Kontan saja rencana tersebut langsung disambar protes masyarakat. Mereka menuding usulan itu mengada-ada dan hanya akan membuat kegaduhan baru.

Sepertinya, Yudian merasa happy jika ada kegaduhan. Gaduh memang bisa melenakan rakyat untuk melupakan tentang janji-janji Presiden saat kampanye dulu. Bak tenggelamnya kasus Harun Masiku oleh pernyataan Yudian.

Atau jangan-jangan, tugas BPIP sebenarnya cuma sekadar alat untuk mengalihkan isu. Seolah-olah diceritakan bahwa Indonesia darurat nilai-nilai keberagaman. Dengan demikian, BPIP sangat diperlukan untuk kembali merajut cita-cita pendiri bangsa.

Asumsi ini bisa jadi benar dan juga bisa jadi salah. Tapi jika kita sedikit meluangkan waktu untuk melihat beberapa runtutan keganjilan belakangan ini, bisa jadi asumsi BPIP sedang mengalihkan isu benar adanya.

Seperti yang kita ketahui bersama, belakangan isu Jiwasraya dan suap eks PDIP yang diduga jadi bancakan untuk kepentingan kelompok tertentu mencuat kepermukaan. Selain itu, dugaan keterlibatan salah seorang elite partai penguasa dalam kasus suap eks komisioner KPU juga membuat penguasa tersudut. Oleh karena itu, muncullah polemik-polemik yang diduga digunakan untuk membenamkan isu-isu besar tersebut.

Kalau benar polemik Kepala BPIP hanya sebatas pengalihan isu Jiwasraya, kasus suap eks PDIP yang melibatkan Sekjend PDIP dan kasus suap eks komisioner KPU, sungguh merugilah bangsa Indonesia menggaji sebesar itu untuk sekedar menjadi antek-antek penguasa. Padahal jika gaji seluruh perangkat BPIP itu dialihkan untuk anggaran kesejahteraan masyarakat, tentu hasilnya akan lebih baik.

Deni Kurniawan
Mahasiswa Mathla’ul Anwar

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close