SUARA PEMBACA

Kerajaan Baru, Bukti Stres Gaya Baru?

Hari-hari ini publik digemparkan dengan aktivitas nyeleneh para aktivis yang mengaku sebagai anggota kerajaan. Dengan memakai kostum ala raja-raja zaman dahulu beserta selir dan pasukannya, merekad engan percaya diri mendeklarasikan ajaran mereka dihadapan publik. Sontak mengejutkan seluruh jagat raya negeri ini.

Anehnya, tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh dan mengikuti ajaran ini. Ajaran yang tidak didasarkan dengan kebenaran. Mereka tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan belaka.

Kasus yang demikian bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya pernah ada ajaran yang ketuanya mengaku nabi hingga ada yang menyebut kerajaan ubur-ubur. Bagi orang awam, mendengarnya saja terasa geli di telinga. Ajaran apa ini? Menyesatkan manusia dari kenyataan dan jalan yang benar. Masyarakat di bawah bayang-bayang khayalan dan janji-janji yang tidak mungkin terealisasi. Meskipun demikian, tidak sedikit masyarakat mengikuti dan mengucap janji setia pada ajaran ini. Mengapa dengan mudahnya orang-orang untuk megikutinya?

Perlu diingat bahwa kini tidak sedikit manusia sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Hal ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Bagaimana tidak? Tidak ada asap jika tidak ada api. Semua yang terjadi sudah sesuai dengan sebab dan akibat, begitu pula dengan fenomena munculnya aliran sesat di tengah tengah masyarakat khususnya kaum muslim. Berbagai himpitan hidup hingga kemrosotan berpikir manusia membuat munculnya ajaran-ajaran di luar nalar akal sehat manusia. Ide kebebasan berperilaku hingga kebebasan berakidah (beragama) menjadikan mereka mudah terpengaruh dengan janji-janji kemakmuran, kesehjahteraan yang sejatinya tidak akan mereka dapatkan. Ketenangan hidup sebagaimana jika telah terpeuhinya naluri menyucikan sesuatu pun mereka tak dapatkan.Yang ada hanya rasa gelisah seiring berjalannya waktu.

Kemrosotan berpikir dan ide kebebasan ala kapitalisme serta himpitan hidup inilah yang membuat masyarakat dengan mudah terhasut ajaran yang menyimpang ini. Tanpa berpikir, mereka mengikutinya. Lemahnya akidah pun juga menjadi faktor yang mendasarinya. Keimanan terhadap Allah tidak lagi menjadi prioritas.

Himpitan hidup mengambil peran besar dalam hal ini. Segala problematika hidup yang semakin kompleks mulai dari ekonomi (pemenuhan kebutuhan hidup) hingga tata kehidupan yang semakin rusak membuat orang semakin putus asa dengan hidup. Wajar wabah stres melanda. Dunia hanya diisi dengan hiburan, bukan mensolusi masalah. Masalah selesai? Tentu tidak.

Ada beberapa cara yang harus dilakukan jika ingin terbebas dari pengaruh fenomena ajaran baru yang tidak sesuai. Pertama luruskan dengan pemikiran yang benar. Apa yang diikuti harus bisa dibuktikan dengan akal sehat manusia agar tidak terjebak pada penyembahan dan ajaran yang tak layak disembah. Allah sudah mengulang berkali-kali di dalam Al Qur’an perintah untuk berpikir, memperhatikan ciptaanNya agar akal manusia membuktikan bahwa dibalik alam semesta beserta isinya ada Allah pencipta dan pengatur yang layak disembah.

Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah: 164).

Tentu hal ini butuh pengkajian secara mendalam dan tentu membutuhkan peran sistem untuk mewujudkannya. Untuk menjaganya, peran sistem untuk menuntaskan ajaran-ajaran yang menyesatkan harus tegas agar tidak terjadi lagi. Kedua, ide kebebasan harus diganti dengan kebebasan yang bertanggungjawab, artinya setiap perbuatan harus mengikuti aturan dari Sang Pembuat hidup, yaitu Allah semata. Ketiga himpitan hidup harus segala tersolusi. Dan hal ini tentu tidak dapat dituntaskan sendirian, melainkan butuh peran dari sistem, peran dari negara untuk menjamin kesejahteraan rakyat.

Insyaallah dengan cara seperti itu, masyarakat di negeri yang mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia ini mampu terlepas dari ajaran yang menyesatkan.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS.Al Baqarah: 147)

Eriga Agustiningsasi, S.KM
Warga Kota Pasuruan

Artikel Terkait

Back to top button