OASE

Ketika Maut Menjemput, Sudah Siapkah Kita?

Tidakkah kita menyaksikan bahwa maut datang tanpa melihat orang yang dijemput; masih muda atau sudah tua, anak kecil atau orang dewasa, orang yang sakit atau yang sehat, kondisi sedih atau senang, kaya atau miskin!

Apakah termasuk hal yang mustahil jika ternyata besoknya atau lusanya atau pekan depan atau bulan depan maut datang menjemput? Tentu tidak mustahil. Dan bukankah Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُۥ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْأَرْحَامِ  ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا  ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ  ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman 31: Ayat 34)

Jika demikian, apa alasan Anda untuk tidak beramal sholih, apa saja bentuk dan nilainya, walaupun kelihatan ringan dan sepele.

Imam Al- Bukhari rahimahullah berkata :

اغتنم في الفراغ فضل ركوع..
فعسى أن يكون موتك بغتة..
كم صحيح رأيت من غير سقم..
ذهبت نفسه الصحيحة فلتة..

Manfaatkanlah di saat longgar keutamaan ruku’ (dalam shalat). Bisa jadi kematianmu datang dengan tiba-tiba. Betapa banyak orang sehat yang engkau lihat tidak berpenyakit. Namun jiwanya yang sehat tiba-tiba pergi secara mendadak. (Hadyus Sari muqoddimah Fathul Bari 481)

Oleh karena itu, setiap Muslim harus mempersiapkan diri dengan banyak beramal shalih sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, kita juga harus selalu mengesakan Allah Ta’ala, bukan yang lain.

Diantara sikap sikap seorang Muslim yang utama adalah murnikan tauhid, jangan nodai tauhid dengan kesyirikan. Jangan sekali-kali beribadah kepada selain Allah, seperti berdoa dan memohon kepada selain Allah, berkurban kepada selain Allah (seperti menyembelih binatang sebagai tumbal atau membuat sesaji). Demikian juga janganlah beribadah agar dipuji manusia (riya), mengerjakan ibadah agar mendapatkan dunia, memakai jimat, penangkal maupun susuk.

Jangan pula percaya dengan ramalan bintang, dukun, paranormal, peramal, dan orang-orang yang mengaku mengetahui yang ghaib. Termasuk syirik pula adalah bersumpah dengan nama selain Allah (baik dengan nama nabi maupun nama lainnya). Jangan ber-tabarruk (ngalap berkah) dengan barang-barang tertentu seperti mencari keberkahan dari pohon, batu, dan benda-benda yang dikeramatkan.

Jangan pula mempelajari sihir, apalagi mempraktekkannya. Jangan pula percaya dengan hari-hari sial, bulan sial, angka sial dan sebagainya. Semua itu adalah syirik, karena tidak ada ampun bagi mereka yang mati dengan membawa amalan tersebut, kecuali yang bertobat.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Back to top button