SYARIAH

Kunci Kemuliaan adalah Berislam secara Kaffah

Tidak ada kemuliaan di dunia bahkan di akhirat kelak kecuali hanya ada dalam Islam. Dan tidak ada kunci kemuliaan kecuali dengan mentaati Allah dan RasulNya yaitu dengan berIslam secara kaffah, tiada kehinaan dan kesengsaraan dunia akhirat kecuali mendurhakai dan menyelisihi Allah dan RasulNya.

Allah Ta’ala, berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Diantara perintah untuk menggapai kemuliaan syariat Islam sebagai pemuncak peradaban terbaik manusia, yaitu sebagaimana Allah Ta’ala, berfirman,

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّينِ مَا وَصّٰى بِهِۦ نُوحًا وَالَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرٰهِيمَ وَمُوسٰى وَعِيسٰىٓ  ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ  ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ  ۚ اللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

Ayat diatas menegaskan tentang pentingnya perintah menegakan agama Allah. Pengarang Tafsir Fathu al-Qadir, Imam asy-Syaukani merangkum beberapa pendapat terkait perintah menegakkan agama tersebut.

Muqatil berkata, perintah menegakkan agama berarti meneguhkan urusan tauhid. Mujahid menjelaskan, tidaklah Allah mengutus Nabi dan Rasul kecuali mengajarkan shalat, zakat, dan istiqamah menetapi perintah-perintah Allah lainnya.

Sedang Qatadah berpendapat, agama ini bisa tegak jika kaum muslimin sudah sanggup menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

Senada, Mufassir Abdurrahman as-Sa’di menerangkan, menegakkan agama adalah mengerjakan seluruh syariat agama, baik yang bersifat ushul (pokok) maupun furu’ (cabang).

Semuanya diamalkan secara individu (fardhu ain) lalu didakwahkan kepada orang lain. Hal ini tentunya membutuhkan ta’awun (kerjasama), saling menasihati dan mengingatkan untuk perkara kebaikan dan ketakwaan.

Diayat tersebut diatas juga diperintahkan untuk menjaga ukhuwah Islam dan janganlah berpecah belah.

Masih menurut as-Sa’di, wihdatul ummah (persatuan umat) menempati ranking teratas dalam upaya mencapai kejayaan kembali umat Islam. Hendaknya umat Islam tidak terpecah hanya karena urusan furu’ semata.

Meski demikian, setiap Muslim harus menyadari dalam urusan prinsip agama, akidah sama sekali tak boleh diusik atau ditolerir hanya karena khawatir dikatakan radikal dalam perkara keyakinan.

Diingatkan as-Sa’di, jika bibit perpecahan itu terus dipelihara maka sejatinya yang menangguk keuntungan adalah musuh-musuh agama, bukan yang lain apalagi yang sedang bertikai.

Umat Islam sendiri hanya beroleh kerugian dan kehilangan kekuatan. Sebab perpecahan itu menimbulkan kerenggangan ukhuwah dan keberkahan jamaah. Untuk itu hendaknya realitas di lapangan bisa menjadi cermin buat seluruh umat Islam.

Ibarat bola liar, kini upaya penistaan agama dan bentuk pelecehan syariat kian menggelinding dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Mirisnya, umat Islam seolah tak pernah berdaya menghadapi itu semua. Justru yang terjadi, pelecehan itu terlihat kian marak dan berani dilakukan di hadapan mata umat Islam.

Sehingga tidak ada jalan lain untuk mencari dan mendapatkan kemuliaan baik individu atau masyarakat kecuali dengan kembali kepada perintah Allah dan RasulNya sesuai dengan pemahaman salafus sholih.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Back to top button