SPORTS

Lawan Trauma Genosida, Klub Tinju Perempuan di Gaza Kembali Gelar Latihan di Tenda Darurat

Gaza (Suaraislam.id) — Perempuan dan anak-anak perempuan Palestina telah memulai kembali latihan tinju di sebuah tenda di Gaza setelah klub mereka hancur akibat serangan Israel di wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Klub Gaza Boxing Women, yang terletak di lingkungan Tel al-Hawa sebelah barat Kota Gaza, mengaktifkan kembali kegiatannya di tenda darurat setelah tempat latihan dan peralatannya rusak akibat gempuran Israel.

Meskipun fasilitas di tenda jauh dari standar yang pernah digunakan, pembukaan kembali klub ini menyediakan ruang bagi para perempuan dan anak-anak perempuan untuk melanjutkan latihan setelah terhenti cukup lama.

Pelatih tinju Palestina sekaligus wasit nasional, Nader Yassin, bekerja keras menghidupkan kembali klub tersebut dengan sumber daya seadanya. Para atlet yang berusia antara 7 hingga 40 tahun berlatih untuk meningkatkan keterampilan bertinju sekaligus meringankan tekanan psikologis akibat konflik.

Yassin mengatakan kepada Anadolu bahwa sebelum serangan terjadi, klubnya memiliki tempat latihan yang luas dan dilengkapi sarung tangan tinju, punch pad, serta peralatan penting lainnya.

“Kami kehilangan semua alat dan peralatan kami akibat serangan Israel. Hari ini, meskipun tidak memiliki tempat yang memadai untuk berolahraga, kami tetap berlatih di dalam tenda dengan sumber daya terbatas yang ada,” ujar Yassin.

Ia menjelaskan bahwa sesi latihan ini bertujuan membantu perempuan dan anak-anak perempuan mengatasi tekanan akibat serangan, menjaga kebugaran fisik, serta sejenak keluar dari kesulitan hidup sehari-hari.

Di tengah fasilitas yang tidak memadai dan kesulitan yang meningkat, Yassin menegaskan komitmennya untuk terus melatih dan berharap dapat mencetak atlet yang mampu bersaing dalam berbagai pertandingan dan turnamen.

‘Kami Memutuskan Membangun Kembali Apa yang Telah Hancur’

Atlet Vela Abu Neda mengungkapkan bahwa kembali berlatih memiliki makna lebih dari sekadar melanjutkan olahraga favoritnya setelah terhenti selama tiga tahun akibat konflik.

Sebelum serangan Israel, Abu Neda berlatih dalam kondisi yang jauh lebih baik dengan tempat dan peralatan yang memadai. Hancurnya klub dan hilangnya fasilitas sempat menghentikan aktivitas bertinjunya selama periode tersebut.

“Setelah tiga tahun serangan Israel, kami memutuskan untuk mulai lagi dan membangun kembali apa yang telah hancur. Hari ini, meskipun sumber daya kami sangat terbatas, tempat tidak memadai, dan peralatan kurang, kami tidak menyerah. Kami melanjutkan latihan, bahkan di dalam tenda,” tutur Abu Neda.

Abu Neda menegaskan bahwa tinju bukan sekadar olahraga baginya, melainkan sarana untuk mengatasi stres dan tekanan psikologis yang menumpuk selama serangan berlangsung.

Ia menyebutkan bahwa kembali berlatih membantunya menyalurkan energi negatif dan memulihkan keseimbangan mental secara bertahap.

“Perang menghalangi saya berolahraga selama tiga tahun, tetapi saya tidak menyerah. Hari ini, saya kembali untuk memulai lagi,” tegasnya.

Lebih dari 1.000 Atlet dan Pramuka Gugur

Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Olahraga Palestina, Mustafa Siam, sebelumnya menyampaikan kepada Anadolu bahwa masyarakat Palestina di Gaza berupaya menghidupkan kembali kegiatan olahraga setelah tiga tahun serangan Israel.

Siam menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 atlet dan anggota pramuka gugur selama serangan tersebut, sementara lebih dari 265 fasilitas olahraga hancur total maupun sebagian.

Ia menambahkan bahwa dibukanya kembali turnamen di Gaza bermakna lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Kegiatan olahraga dapat membantu anak-anak dan pemuda yang terdampak perang, pengungsian, dan kehilangan agar dapat pulih secara psikologis dan sosial sekaligus menjaga kemampuan atletik mereka.

Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 74.000 warga Palestina, melukai 175.000 lainnya, serta menghancurkan atau merusak sekitar 90% infrastruktur di wilayah kantong tersebut.[]

Sumber: Anadolu Agency

Back to top button