DAERAH

Memuliakan Kalimat Tauhid

Bogor (SI Online) – Majelis Cinta Qur’an mengadakan kajian rutin khusus bagi muslimah. Kajian rutin yang biasa diselenggarakan setiap bulan ini dihadiri oleh puluhan muslimah dari berbagai majelis taklim wilayah Cijeruk Bogor. Acara rutin bulanan ini mengangkat tema “Memuliakan Kalimat Tauhid” yang diadakan di Majelis Taklim Al Firdaus, Cijeruk, Bogor, Sabtu (3/11/2018).

Ustazah Selvi Sri Wahyuni S.Pdi selaku narasumber menyampaikan tentang pentingnya umat Islam mengetahui dan memuliakan makna Laillahaillah Muhammadurasulullah yang tertulis pada sebuah bendera yang saat ini sedang viral, di bela oleh umat islam. “Kalimat Tauhid Laillahaillallah Muhammadarusullah adalah ciri kemuliaan bagi umat Islam, izzahnya kaum muslimin dan harga mati jaminan seseorang untuk bisa masuk surga, maka kita umat islam harus memuliakannya”, ungkapnya.

Praktisi Pendidikan inipun menjelaskan tentang perbedaan antara ar royah dan al liwa yang digunakan sejak zaman Nabi Muhammad Saw dengan mengutip hadisnya. “Bahwa, Rayah Rasulullah saw, berwarna hitam dan Liwa’-nya berwarna putih. Tertulis di situ Laillahaillallah Muhammadarusullah, jadi bukan benderanya HTI” jelasnya.

Menurutnya membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid merupakan penghinaan dan pelecehan, karena di zaman Nabi, para sahabat mempertaruhkan nyawanya demi memperjuangkan agar panji tersebut tidak jatuh ke tanah dengan menceritakan kisah para ksatria pemberani pada Perang Uhud dan Perang Mu’tah.

“Mereka para ksatria pemberani yang rela mempertaruhkan nyawa demi kemuliaan panji Rasulullah, seperti Ja’far bin Abi Thalib yang kehilangan kedua tangannya karena mempertahankan panji tersebut agar tidak tersungkur ke tanah, masa sekarang ada orang islam dengan perasaan bangga membakarnya” tambahnya.

Ia pun menyampaikan tentang pentingnya orangtua mengajarkan kepada putra putrinya tentang simbol-simbol islam, sehingga kelak mereka bisa menghormati dan menjaga kemuliaan agar tidak terulang kejadian seperti ini lagi.

Diakhir ia mengutip nasehat ulama Buya Hamka “Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh hakikatnya sama dengan mati”, jadi menurutnya apabila ada orang islam tidak marah atas penghinaan terhadap agamanya maka ia layaknya orang mati.

rep: ummu faza

Back to top button