SURAT PEMBACA

Menanti Sikap Jokowi untuk India

Hingga saat ini korban pembantaian ekstrimis Hindu terhadap muslim India kian bertambah. Jumlah korban meninggal mencapai 42 orang. Angka kematian ini menandai kekerasan bermotif agama terburuk di New Delhi sejak 1984.

India mendapat kecaman dunia internasional. Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, mengutuk pembantaian yang dilakukan terhadap Muslim India. Presiden Pakistan, Arif Alvi, menyatakan keprihatinannya atas kekerasan yang dialami Muslim India. Dia menuding para pemimpin partai yang berkuasa di negara tersebut telah menciptakan kebencian terhadap Muslim.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga turut mengecam aksi kekerasan di New Delhi, India. Indonesia pun merespon. Menteri Agama, PBNU, dan MUI turut serta mengecam tindakan brutal kaum ekstrimis Hindu. Sekelas Indonesia sebagai mayoritas muslim terbesar di dunia, Presiden belum angkat bicara. Pakistan sudah, Turki sudah, Indonesia kapan? Apakah cukup terwakilkan dengan pernyataan Menteri Agama, PBNU, dan MUI? Kami sedang menanti sikap Pak Jokowi.

Pusat Studi Strategi Islam (The Royal Islamic Strategic Studies Centre) di Amman, Jordania, pada tahun lalu pernah merilis 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia. Dari 500 tokoh itu, dipilah menjadi 50 teratas tokoh muslim paling berpengaruh di dunia. Nama Jokowi berada di urutan ke-13.

Sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh, rasanya sangat aneh bila Jokowi tak segera ambil sikap terhadap India. Apalagi ia Presiden dari negeri mayoritas muslim terbesar di dunia. Dengan keterpengaruhannya sebagai tokoh muslim dunia, semestinya bisa lebih pro aktif merespon isu-isu internasional, utamanya terkait umat Islam.

Selama kepemimpinannya, Jokowi justru banyak mengambil posisi ‘aman’. Tak banyak ulah, tak bertingkah. Lebih memilih diam dan bungkam. Ada isu Rohingnya, cukup diwakili Menlu saja. Ada isu Uyghur tetap diam. Dan kali ini ada kekerasan dan persekusi yang dialami Muslim India, entah kemana dia. Untuk sekadar kecaman, kutukan, atau protes, suaranya hening dan santuy. Apa memang isu ini tak begitu penting direspon? Ataukah saking sibuknya hingga tak sempat mendengar di luar sana ada saudara seiman yang wajib dibela dan disuarakan hak beragamanya.

Sampai di sini, saya pun tak mengerti dengan Anda, Bapak. Cobalah sedikit saja mencontoh bagaimana tegasnya Erdogan bersuara. Wibawanya kelihatan sebagai pemimpin negeri Muslim. Meski, kecaman, kutukan, dan cacian ke India tak akan menghentikan penderitaan minoritas muslim yang hidup di sana. Indonesia terlalu Lola alias Loading Lama. Rakyatnya fast respon, pemerintahnya malah slow respon.

Ahh, sudahlah! Memang beginilah negeri +62. Cepat tanggap kalau soal utang dan investasi. Respon lambat jika menyangkut derita Muslim di belahan negara lain.

Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Artikel Terkait

Back to top button