Mengapa Israel Mencintai Air Skunk?
Senjata Israel yang berbau busuk mengubah penindasan Palestina menjadi promosi penjualan.
Oleh: Somdeep Sen, Research Associate Studi Asia di Afrika pada Universitas Pretoria.
Di mata otoritas Israel, warga Palestina di Gaza dinilai hidup “terlalu enak”. Tiga tahun setelah genosida dilakukan oleh Israel, para penyintas telah didesak ke area tanah yang makin sempit di tengah reruntuhan, sampah, dan penyakit. Tampaknya, penderitaan itu pun belum cukup memuaskan bagi penjajah.
Pada akhir September, bau busuk menyebar ke seluruh Kota Gaza dalam semalam. Pada awalnya, penduduk mencari sumber bau di sekitar mereka. Mereka bertanya-tanya apakah bau itu berasal dari toilet atau dari anak-anak mereka yang sedang tidur.
Kemudian, laporan tentang bau busuk yang sama mulai berdatangan dari seluruh penjuru kota. Pesawat Israel dilaporkan telah menjatuhkan ratusan paket berisi zat berbau sangat menyengat di daerah padat penduduk.
“Hari ini, kami semua di Kota Gaza terbangun karena bau busuk dan busuk dalam arti yang sebenarnya. Pesawat nirawak penjajah Israel menyemprotkan bau busuk ini untuk mencemari udara. Bahkan udara pun mereka cemari?” kata seorang saksi kepada media AJ+.
Israel pada kenyataannya telah menghabiskan hampir dua dekade mempersenjatai bau busuk terhadap warga Palestina.
Air skunk (air berbau busuk), persenjataan penciuman terkemuka Israel yang kini diyakini digunakan di Gaza, dikembangkan pada tahun 2004. Pengembangan ini dilakukan oleh perusahaan Israel Odortec yang bermitra dengan Departemen Pengembangan Teknologi Polisi Israel.
Senjata ini pertama kali dikerahkan terhadap pengunjuk rasa Palestina di Nilin pada tahun 2008. Cairan ini diklasifikasikan sebagai senjata tidak mematikan berbasis aroma untuk pengendalian massa dan dapat ditembakkan dari meriam air atau dijatuhkan dari pesawat nirawak.
Dari Nilin, penggunaannya menyebar ke seluruh Tepi Barat yang diduduki. Hal ini menjadi fitur rutin dari demonstrasi di Bilin, Kafr Qaddum, dan Nabi Saleh. Pasukan Israel berulang kali menggunakannya terhadap warga Palestina yang memprotes permukiman ilegal dan pembatasan pergerakan.
Pada tahun 2011, pasukan Israel menembakkan gas air mata dan air skunk pada demonstran tak bersenjata. Mereka adalah warga yang menghadiri pemakaman seorang pria berusia 28 tahun yang dibunuh oleh tentara Israel di Nabi Saleh. Insiden serupa juga dilaporkan di sana pada tahun 2012 dan 2013.
Praktik biadab ini segera menyebar ke luar desa-desa Tepi Barat. Pada tahun 2013, para aktivis yang berdemonstrasi menentang penutupan Jalan Shuhada di Hebron serta wartawan yang meliputnya, disemprot dengan cairan busuk tersebut.
Tahun berikutnya, polisi Israel mengemudikan truk air skunk melewati daerah kantong warga Palestina di Yerusalem Timur. Mereka menyemprot rumah, jalan, dan bangunan sekolah. Di at-Tur, empat sekolah terkena dampaknya sehingga memaksa sekitar 4.500 siswa tinggal di rumah karena baunya.
Pada tahun 2018, Israel juga mulai menyebarkannya dari udara. Selama peringatan Great March of Return, militer Israel menggunakan pesawat nirawak Shoko untuk menyiram pengunjuk rasa Palestina di Gaza dengan cairan busuk dari muatan kantong plastik.
Bagi otoritas Israel, kegunaannya jauh melampaui sekadar pengendalian massa. Jika disemprotkan ke area protes, orang-orang akan bubar. Namun, jika disemprotkan ke jalan, rumah, dan lingkungan sekitar, hal ini menjadi alat ampuh untuk membuat ruang hidup warga Palestina tidak layak huni.
Hal tersebut menjelaskan antusiasme abadi Israel terhadap air skunk. Ada alasan lain juga, yakni Israel menjual metode yang telah mereka kembangkan untuk mengendalikan warga Palestina kepada dunia.






