NUIM HIDAYAT

Mengucapkan Selamat Natal

Ketika saya menjadi anggota FKUB Depok, saya tidak pernah mengucapkan selamat natal. Meski beberapa orang Kristen mengirimi saya selamat Idulfitri di bulan Syawal.

Di japri WA, salah seorang anggota FKUB yang Kristen itu malah saya ajak diskusi tentang masalah keimanan. Saya tanyakan kepada dia, kenapa Nabi Isa kok dijadikan Tuhan. Dia kan manusia lahir dari Bunda Maryam. Kalau karena tidak punya bapak, Nabi Adam lebih hebat lagi ia tidak punya bapak dan ibu.

Alasan dia, Isa dijadikan Tuhan, karena Nabi Isa punya mukjizat menghidupkan orang mati. Dan yang bisa menghidupkan orang mati itu hanya Tuhan. Ia tidak tahu bahwa Nabi Musa juga pernah menghidupkan orang mati. Nabi Ibrahim juga pernah menghidupkan burung yang mati (mukjizat dari Allah).

Dari hasil saya diskusi, kebanyakan mereka kurang paham terhadap agamanya. Mereka hanya menerima saja soal keyakinan itu dari pendetanya. Mereka jarang yang mengkaji langsung dari Bibel, sebagaimana umat Islam banyak yang sehari-hari menelaah Al-Qur’an.

Tapi kadang mereka dalam forum bersikap radikal. Pernah dalam suatu forum di Cimanggis, salah seorang pemeluk Kristen protes keras kenapa di Balai Kota Depok tidak pernah diizinkan mengadakan natalan bersama. Salah seorang pejabat Pemda yang hadir di forum itu tidak menjawabnya.

Kalau ada perdebatan seperti ini, saya sering menyatakan bahwa kaum minoritas di Indonesia ini harusnya bersyukur. Mereka diberi kebebasan yang luas di negeri ini. Boleh jadi lurah, camat, gubernur, menteri, tentara dan lain-lain. Meski umat Islam jumlahnya 85 persen lebih, umat Islam ‘tidak pernah’ menzalimi mereka. Bahkan dalam berbisnis mereka diberi peluang seluas-luasnya. Sehingga mereka menguasai ekonomi di tanah air. Umat Islam pun tidak melakukan aksi pembakaran, kerusuhan atau pembunuhan karena masalah dominasi ekonomi ini.

Lihatlah nasib umat Islam minoritas di Asia Tenggara. Di Myanmar, umat Islam tidak bersalah apa-apa, dibunuh dan ratusan ribu diusir. Di Thailand Selatan dan Filipina Selatan umat Islam dizalimi (alhamdulillah sekarang konflik sudah mereda). Bolehkah umat Islam yang minoritas di Asia Tenggara ini menjadi menteri? Bahkan di Amerika yang katanya negeri terhebat demokrasinya, sampai sekarang belum ada umat Islam yang jadi menteri.

Saya juga pernah protes ketika diantara mereka menginginkan tiap perumahan ada gerejanya. Saya bilang bahwa gereja beda dengan masjid. Gereja untuk ibadah seminggu sekali, masjid lima kali sehari. Gereja harusnya dibangun jika anggota jamaatnya cukup. Sesuai dengan peraturan SKB tiga menteri tahun 2006.

Begitulah dalam forum saya sering berdebat dengan mereka. Tapi ada salah seorang dari mereka yang suka mengirimi WA kepada saya. Ia senang berdiskusi dengan saya. Ia terbuka, tahu prinsip yang saya pegang.

Maka dalam pengalaman saya bergaul dengan orang-orang non Muslim, bila kita memegang teguh prinsip mereka malah hormat. Mereka tahu bahwa kita tidak mau mengucapkan selamat Natal karena itu berarti mengucapkan selamat kepada hari lahir Tuhan Yesus.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button