#Pilpres 2019OPINI

Menjaga Kewarasan di Tengah Survei Elektabilitas Capres

Kontestasi politik Pemilihan Presiden (Pilpres) memasuki babak baru. Rapat umum atau kampanye terbuka telah dimulai sejak Ahad, 24/3/2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menjadwalkan kampanye terbuka digelar selama 21 hari ke depan. Mulai dari 24 Maret hingga berakhir pada 13 April 2019. Genderang adu kuat perebutan suara pun kian nyaring terdengar.

Hasil survei elektabilitas capres menjadi ajang rujukan untuk menjaring suara. Beberapa lembaga survei pun mulai unjuk gigi. Berlomba-lomba merilis hasil survei elektabilitas capres. Walau tak jarang hasil survei berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Bahkan ada kalanya membuat publik tertawa sebab hasil survei yang ibarat jurang menganga.

Sebagaimana hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Rabu, 20/3/2019, menjadi perbincangan publik. Sebab jarak elektabilitas antara Jokowi dengan Prabowo, menurut survei Kompas tersebut, telah terpangkas lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan lembaga survei lainnya. Padahal, survei tersebut dilakukan pada waktu yang berdekatan dan dipublikasikan hanya berselang hari.

Lembaga survei hari ini pun dilingkupi ketidaknetralan. Waketum Partai Gerindra, Fadli Zon, mengungkapkan lembaga survei yang ada telah merangkap menjadi konsultan politik. Mereka bekerja tak hanya untuk mensukseskan partai atau kandidat tertentu. Tapi juga bekerja layaknya pengacara yang sedang membela kliennya. (suara-islam.com, 23/3/2019).

Dalam sistem demokrasi kapitalis adalah hal yang lumrah, jika lembaga survei menjadi industri politik yang menguntungkan. Sementara di sisi lain menjadi opini untuk menggiring kepercayaan rakyat terhadap elektabilitas salah satu kandidat. Maka jangan heran, bila hasil survei sering kali menjadi rujukan bagi para undecided voter untuk menetapkan suara. Padahal belum tentu hasil survei sesuai dengan fakta di lapangan.

Melihat gencarnya lembaga survei yang gencar merilis hasil survei elektabilitas capres. Semestinya kita tidak ikut terlena dengan euforia yang ada. Kita harus bersikap dan berpikir cerdas. Sebab elektabilitas capres tidak menjadi jaminan bahwa capres yang memiliki elektabilitas tinggi mampu menjadi pemimpin sejati. Sebaliknya survei elektabilitas capres hari ini menjadi alat untuk mempengaruhi rakyat. Baik dengan berbagai pencitraan maupun janji palsu yang berujung sendu.

Survei elektabilitas capres dalam sistem demokrasi seolah menjadi harga mati. Padahal keberadaannya ditunggangi banyak kepentingan yang menyesatkan rakyat. Berbeda dalam pandangan Islam dimana pemimpin tidak membutuhkan elektabilitas. Sebab Islam telah menentukan syarat-syarat pemimpin yang sesuai syariah-Nya.

Islam menetapkan sejumlah kriteria yang wajib dipenuhi seorang sehingga sah diangkat sebagai pemimpin. Ini yang disebut sebagai syarat in’iqad, syarat sah seorang pemimpin/khalifah yakni Mukmin, baligh, berakal, laki-laki, merdeka, adil, dan memiliki kemampuan. Selain itu juga ada beberapa syarat keutamaan.

Seorang pemimpin juga harus memiliki karakter dan sifat sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam contohkan. Sebab ia tak hanya menjadi pemimpin tapi juga pelayan bagi rakyatnya. Maka sifat adil, amanah, berani, jujur dan tawadhu’ harus dimilikinya. Agar kelak kekuasaan yang berada di tangannya tidak digunakan secara sewenang-wenang. Tapi semata-mata untuk mengayomi, melindungi dan melayani rakyatnya. Didasari cinta dan ketundukan kepada Allah Ta’ala.

Namun patut diingat, seorang pemimpin diangkat untuk menerapkan syariah. Mereka dibaiat untuk menerapkan al-Qur’an dan al-Sunnah di tengah manusia. Sebab hanya dalam naungan aturan Islam saja terwujud kepemimpinan hakiki. Dimana seorang pemimpin dapat menjalankan kewajibannya secara ideal dan proposional.

Hanya dalam naungan Islam pula terwujud seorang pemimpin yang dirindukan rakyat. Yaitu pemimpin yang digambarkan dalam hadits sebagai pemimpin terbaik.

“Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.” (HR. Muslim).

Maka, penting bagi kita untuk menjaga kewarasan kita. Agar tidak tertipu oleh survei elektabilitas capres. Di satu sisi terus memberikan pemahaman pada rakyat tentang kriteria pemimpin dan kepemimpinan hakiki dalam naungan Islam. Agar rakyat bersikap dan berpikir cerdas di tengah kontestasi politik yang kian memanas dan tak lagi sehat. WalLahu’alam.

Ummu Naflah
Penulis, Mentor AMK

Back to top button