NASIONAL

MER-C Dorong Pemerintah Tangani Karhutla dengan Prioritas Keselamatan Masyarakat

Jakarta (Suaraislam.id) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia memperingatkan dampak serius bencana tersebut terhadap kesehatan masyarakat dan kondisi sosial-ekonomi warga. Tanpa mitigasi yang tepat, masyarakat di wilayah terdampak berisiko menghadapi gangguan kesehatan hingga krisis sosial.

MER-C menyoroti paparan partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan dalam asap karhutla yang dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, serta gangguan pada kulit.

Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Mereka berisiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap, sehingga perlindungan terhadap kelompok tersebut harus menjadi prioritas dalam penanganan bencana.

Namun, ancaman karhutla tidak berhenti pada persoalan kesehatan. MER-C juga mengingatkan bahwa terbatasnya aktivitas masyarakat di luar ruangan dapat menghambat roda perekonomian. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerentanan warga dan memicu krisis sosial, terutama jika kebutuhan dasar masyarakat tidak terpenuhi.

Menyikapi situasi tersebut, MER-C Indonesia mendorong pemerintah dan pihak terkait melakukan penanganan karhutla secara terpadu dengan menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.

Pertama, pengendalian kebakaran hutan harus dilakukan secara terpadu. Petugas yang menangani kebakaran perlu dibekali wawasan, alat pelindung diri, serta strategi penanganan yang terukur agar upaya pemadaman tidak justru membahayakan keselamatan mereka.

Kedua, masyarakat di wilayah dengan risiko paparan kabut asap paling berbahaya perlu mendapat imbauan untuk membatasi sementara aktivitas di luar ruangan. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat menghirup udara yang tercemar.

Ketiga, penggunaan masker harus disesuaikan dengan tingkat risiko paparan. MER-C menyebut masker bedah dapat digunakan untuk mengurangi paparan partikel karbon kasar, sedangkan masker respirator seperti N95 atau KN95 diperlukan untuk membantu mengurangi paparan partikel lebih kecil, termasuk PM2.5.

Keempat, logistik rumah sakit harus diperkuat untuk mengantisipasi lonjakan pasien dengan gangguan kesehatan akibat kabut asap. Kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatan menjadi bagian penting agar warga terdampak memperoleh penanganan medis yang memadai.

MER-C Indonesia juga mengimbau seluruh relawan MER-C maupun relawan lainnya yang berada di wilayah terdampak karhutla agar tidak mengabaikan keselamatan diri dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Para relawan diminta terus berkoordinasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, dan lembaga kemanusiaan lainnya. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan perlindungan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak kabut asap.

MER-C menegaskan, penanganan karhutla harus dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Keselamatan petugas, perlindungan kesehatan warga, kesiapan rumah sakit, hingga keberlangsungan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat tidak boleh diabaikan dalam menghadapi bencana ini. []

Back to top button