#Wabah CoronaOPINI

Mini Lockdown, Istilah Baru Lagi?

Jika ingat istilah mini, saya jadi teringat tumini dan marni. Apa itu? Tumini singkatan dari Tumpeng Mini. Sedangkan Marni artinya Martabak Mini. Kali ini Pak Jokowi juga suka istilah mini. Yaitu, mini lockdown yang katanya efektif mengatasi penyebaran virus corona. “Mini lockdown yang berulang itu akan lebih efektif,” ucap Jokowi.

Awal Maret lalu saat kasus positif corona masih mini, pemerintah begitu anti dengan istilah lockdown. Hal itu ditegaskan Jokowi dengan menyebut kebijakan lockdown adalah wewenang pemerintah pusat, bukan daerah. Ia mengatakan setiap negara memiliki karakter, budaya, dan kedisplinan yang berbeda-beda. Kala itu ia mengklaim tidak ada negara-negara yang menerapkan lockdown, berhasil mengatasi virus corona.

Lain dulu, lain sekarang. Kini, setelah kasus positif corona meningkat tajam, Jokowi mengatakan mini lockdown lebih efektif mengatasi covid. Ya begitulah pemimpin kita. Ganti istilah adalah solusi dan jurus jitu pemerintah dalam menekan laju penularan covid-19.

Tak mau lockdwon, mereka pakai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Melihat efek PSBB terhadap ekonomi, keluarlah kebijakan new normal life. Masyarakat harus menerima dan beradaptasi dengan virus corona. Lalu new normal berganti menjadi adaptasi kebiasaan baru lantaran masyarakat salah paham dengan istilah itu. Setelah new normal digulirkan, masyarakat malah abaikan protokol kesehatan. Dikira hidup kita sudah normal kembali. Pemerintah pun kalang kabut melihat kasus corona yang terus bertambah.

Ada pula PSBB Transisi yang diterapkan DKI Jakarta. Namun, PSBB transisi dan new normal menjadi bumerang. Angka kasus positif covid makin tak terkendali. Muncul klaster-klaster baru seperti pasar, perkantoran, keluarga, dan lainnya.

Seperti tak kapok dengan istilah, Jokowi meluncurkan lagi istilah PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro atau Komunitas). Jokowi menilai PSBM lebih efektif menerapkan disiplin protokol kesehatan.

Kini, per 30 September 2020, kasus positif covid sudah mencapai angka 287.008 orang. Sebagai akibat gonta ganti istilah, beberapa kali penambahan angka positif covid pecah rekor. Hampir menembus lebih dari 4.000 kasus positif tiap harinya.

Mau mini lockdown atau maksi lockdown, jurus pemerintah menghadapi pandemi ya itu-itu saja . Belum ada usaha maksi untuk menekan laju penularan. Sebab, fokus penanganannya sudah bergeser. Tak lagi mengutamakan aspek kesehatan, tapi ekonomi.

Meski kesehatan menjadi perhatian, tapi pemerintah pusat cenderung berlepas tangan. Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab itu kepada pemerintah daerah. Pokoknya angka harus turun. Entah bagaimana caranya. Begitulah prinsip kerja pemerintah pusat. Maunya turun, tapi mereka sendiri tak memiliki solusi terstruktur mengatasi pandemi ini.

Menterinya pun lenyap tak bersuara. Seperti tidak punya masterplan mengatasi pandemi covid. Kalau sekadar mengandalkan solusi preventif berupa 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker) serta kuratif dalam bentuk 3T (Testing, Tracing/Tracking, Treatment), tanpa memberi edukasi dan kompensasi pada masyarakat ya percuma.

Masyarakat tidak patuh protokol karena salah pemerintah sendiri. Gonta ganti istilah bikin masyarakat bingung. Jika memang ditemukan ada kasus positif di suatu lingkungan, lingkungan itulah yang dibatasi aktivitasnya. Jokowi menyebut ini sebagai “mini lockdown”.

Jika definisinya demikian, maka wajar bila ada beberapa daerah yang emnyebut sudah menerapkan mini lockdown seperti yang dimaksud Jokowi.

Ahh, sudahlah. Intinya, istilah baru adalah solusi jitu pemerintah. Pada akhirnya, kebijakan mengatasi pandemi dikembalikan pada setiap daerah. Pusat maunya terima hasil baiknya saja. Karena mereka tak mau dirugikan kepentingan nasionalnya. Dan pada akhirnya pula, kita sendirilah yang harus menjaga diri.

Ada negara atau tidak rasanya sama saja. Punya pemimpin serasa tak memiliki pelindung dan penjaga. Hidup matimu urusanmu. Negara nggak mau tahu. Penguasa suka-suka. Diberi saran membisu. Dikritik menggerutu. Diberi masukan solusi Islam juga tak setuju.

Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda saat di rumahku, ‘Ya Allah, keraslah kepada mereka yang diserahi urusan umatku lalu bersikap kasar pada umatku! Dan baiklah kepada mereka yang diserahi urusan umatku lalu bersikap baik pada umatku!’” (HR. Muslim)

Chusnatul Jannah

Artikel Terkait

Back to top button