OPINI

Narasi Jahat Menyasar Media Islam

‚ÄúSatu peluru hanya dapat menembus satu kepala. Namun, satu tulisan dapat menembus ribuan kepala.” (Sayyid Qutb)

Kutipan dari Sayyid Qutb tersebut tampaknya benar adanya. Ya, ribuan kata kebenaran yang diukir oleh goresan pena ternyata lebih menakutkan daripada peluru dalam moncong senjata. Inilah gambaran keberadaan media Islam yang tengah menjadi sorotan, karena katanya mengusung narasi radikalisme-terorisme.

Buletin Islamina, volume 3, edisi 31, bulan Desember 2022, menerbitkan laporan tahunan berjudul “Laporan Tahunan: Narasi Radikalisme-Terorisme Tahun 2022.” Laporan tersebut merilis delapan website media Islam yang diduga konsisten menyuguhkan narasi radikalisme-terorisme. Delapan website tersebut adalah tintasiyasi.com, eramuslim.com, al-waie.id, buletinkaffah.com, suaraislam.id, mediaumat.id, nahimunkar.org, dan muslimahtimes.com.

Kedelapan website ini disebut mengusung narasi radikalisme-terorisme karena diduga memuat lima indikator umum radikalisme, yakni (1) intoleransi, (2) fanatik, (3) bersikap eksklusif, (4) hate speech kepada kelompok yang dianggap berlawanan; dan (5) menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai suatu tujuan.

Membaca kelima indikator tersebut, tampaknya redaksi buletin tersebut kurang piknik. Media Islam yang katanya radikal itu, faktanya adalah media Islam yang selama ini vokal membela kepentingan umat. Media yang justru konsisten membongkar kebijakan-kebijakan tuan penguasa yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Media yang senantiasa menawarkan Islam sebagai solusi problematika umat. Aneh, jika label radikalis-teroris justru disematkan kepada media Islam yang istikamah menyuarakan Islam kafah.

Narasi jahat yang disematkan, jelas membuat tugas media Islam makin berat. Media Islam yang sejatinya berdiri tegak menyuarakan kebenaran justru terus dihantam framing jahat. Narasi radikalisme-terorisme seolah tak lelah disematkan demi menghentikan langkah. Padahal di hati umat, media-media Islam yang lurus inilah yang menjadi pencerah yang kiprahnya senantiasa dirindukan umat.

Ya, selain menjadi rujukan terkini perkembangan kondisi dunia Islam hari ini, suara dari media Islam inilah yang menjadi kepanjangan suara umat yang tengah diliputi kezaliman. Namun, begitu takutkah dengan tinta-tinta jurnalis dan penulis Islam sehingga framing jahat radikalis-teroris pun disematkan?

Alhasil, wahai, para jurnalis dan penulis Islam yang berada di balik layar media Islam yang katanya radikalis-teroris, selamat! Tinta-tinta Anda ternyata mampu membuat dinding istana bergetar. Tinta-tinta Anda ternyata mampu membuat tuan-tuan penguasa kepanasan dan ketakutan. Tinta-tinta Anda ternyata lebih berbahaya dari moncong senjata.

Maka lanjutkanlah mengukir aksara kebenaran! Teruslah suarakan Islam dengan lantang. Jangan biarkan jari-jari Anda terdiam di kala kezaliman membelenggu umat. Andalah harapan umat ‘tuk jadi pencerah dan penerang di tengah gelapnya fitnah akhir zaman. Wallahu a’lam bissawab.

Jannatu Naflah, Praktisi Pendidikan.

Back to top button