#Banjir 2020OPINI

Nasi Bungkus Datang, Langit Jakarta Terang

Kemarin ada demo di Balai Kota DKI. Tepatnya di depan Balai Kota, lalu bergeser ke Patung Kuda. 200 orang, kata media.

Minta Anies mundur, tuntut mereka. Katanya, Anies gak becus urus banjir. Kenapa gak ke bupati dan walikota Bekasi? Kenapa gak ke walikota Depok? Kenapa gak ke bupati Bogor? Kenapa gak ke bupati/walikota Tangerang? Kenapa gak ke gubernur Jawa Barat, Jawa Tengah atau Banten?

Di Jakarta banjir sudah surut dan korban sudah ditangani. Sementara di beberapa wilayah, banjir dan longsor belum tuntas tertangani. Kenapa bukan bupati/walikota atau gubernur mereka yang diminta turun? Kenapa malah Anies?

Loh mikirnya normatif banget sih. Kebanyakan makan pasal dan peraturan. Hidup bukan cuma moral dan undang-undang. Karena perut gak ada urusannya dengan moral dan undang-undang. Tapi urusannya dengan makan.

Gue kasih jawaban supaya loh ngerti. Masalahnya bukan di Anies bro. Masalahnya juga bukan di Tuhan yang turunin hujan. Lalu, masalahnya dimana? Ya gak ada masalah. Dan memang gak ada masalah. Loh aja yang suka masalahin. Pakai hadang demo segala. Ini hanya soal bagaimana membaca peluang dan kesempatan. Membaca dari pintu mana rizki Tuhan akan dibagikan. Bukan soal banjir bro. Kalau itu mah bisa dicari-cari.

Masuk akal juga! Kemarin ada video beredar di medsos Wawancara dengan beberapa pendemo. Anak-anak remaja. Usia tanggung. Mengaku dibayar 40 ribu. Serius? Biasa aja kali! Otak kalau terlalu kebanyakan pasal, emang susah diajak santai.

Tulisan ini khusus tentang anak-anak remaja dalam video itu. Itupun kalau videonya bener. Bener-bener diambil kemarin. Yang lain? Gak usah bicara yang lain. Entar salah lagi. Ini gak ada kaitannya dengan pendemo yang lain. Kagak ada. Kalau ada, itu urusan loh. Bukan urusan Mang Udin.

Hari gini, harga semua barang naik bro. Banyak orang susah. Ada peluang, kenapa gak ambil? Paling cuma 3-4 jam. Panas-panas dikit, sambil nyanyi-nyanyi. Ikut yel yel. Dapat 40 ribu. Lalu pulang.

Kerja, keluar keringat dan dapat duit. Wajar! Loh aja yang jahat. Orang nyari duit loh bully. Emang loh bisa ngasih mereka? Tahu kebutuhan mereka? Ikut merasakan kemiskinan mereka?

Ketika ada orang sedekah, bagi-bagi duit kepada mereka, kenapa loh sewot? Kenapa loh ngiri? Bagi anak-anak itu, orang-orang yang bagi duit seperti malaikat di tengah lautan orang kaya yang bakhilnya naudzu billah. Dosanya aja susah diminta, apalagi duitnya.

Silahkan cari duit, tapi jangan ganggu Anies dong… Waduh, masih gak ngerti juga. Emang kalau ganggu presiden dapat duit? Emang kalau ganggu gubernur dan kepala daerah lain dapat duit? Kagak! Loh kalau cara berpikirnya normatif, kagak nyambung dengan urusan perut. Perut itu nyata. Pasal, suka-suka yang buat dan yang melaksanakan.

Kalau ganggu gubernur lain juga bisa dapat duit, ya dari dulu udah dilakuin. Ini soal peluang kerja bro. Tidak semua tempat ada.

Orang nyari rizki. Jangan dicemooh. Tuhan kasih rizki dari berbagai pintu. Rizki anak-anak remaja itu dari situ. Itupun gak seberapa. Kasihan… Kita doakan mereka kelak jadi komisioner KPU, biar agak banyakan dikit dapatnya. Syukur-syukur punya posisi di Jiwasraya atau jadi komisaris Asabri. Biar nasibnya lebih baik… Begini baru bijak nasehatnya.

Melihat mereka dapat uang, kita mestinya ikut senang. Jakarta makin banyak lowongan pekerjaan. Meski part time. 40 ribu setiap 3-4 jam. Upah yang cukup layak. Apalagi jika ditambah nasi bungkus. Makin layak.

Kalau peluang pekerjaan ini terus ada, apalagi rutin, Jakarta makin cerah. Bolehlah kita bilang: ini gara-gara nasi bungkus. Nasi bungkus datang, langit Jakarta makin terang.

Jakarta, 15 Januari 2020

Mang Udin

Artikel Terkait

Back to top button