SURAT PEMBACA

Nasionalisme dan Kemanusiaan di Negeri Batas Timor Leste

Pada Rabu, 14 April 2021 kami menjumpai para mama, papa, oma, opa, beserta adik-adik yang memilih untuk setia pada NKRI sejak tahun 1999, ketika Timor Timur atau yang saat ini dikenal dengan Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia.

Mereka lebih memilih Indonesia ketimbang Timor Leste karena merasakan hidup di NKRI lebih aman. Konon kabarnya saat itu kondisi Timor Leste sangat tidak stabil, sering terjadi pembunuhan. Entah apa motif pembunuhan tersebut, kami juga tidak memahami.

Memilih menjadi WNI meninggalkan tanah kelahirannya Timor Leste bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki cukup harta untuk memulai kehidupan baru di negeri baru. Seorang mama menceritakan, dia tidak memiliki tanah sama sekali. Keluarganya bertahan hidup dari kebaikan saudara sesuku yang mengijinkan tanahnya untuk dikelola.

Para pemilik wajah eksotis khas Timor Leste ini, berdiam di sebuah kampung yang dikenal dengan Trans Kotun di desa Naimana kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketika kami menanyakan salah seorang Mama, apakah punya KTP Indonesia? “Tentu saja punya,” jawab Mama dengan dialek khasnya. Apa mama bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya? Tentu saja bisa, seketika serentak para mama dan papa beserta muda-mudinya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rasa haru terpancar dari sorot mata masyarakat transkotu, dan juga para relawan yang hadir di sana.

Tak lama kemudian relawan MER-C bergegas mempersiapkan layanan pengobatan umum bagi warga Trans Kotun, sambil sesekali berdialog dengan warga yang menunggu antrian untuk diperiksa. Sebelumnya memang pernah ada bantuan layanan kesehatan, di sekitar lokasi kampung mereka, cukup jauh lokasinya. Ketika mereka berbondong-bondong datang, ternyata pengobatan telah bubar.

Lokasi pengobatan umum kami buka di pekarangan rumah seorang warga Trans Kotun, terdapat juga kuburan keluarga khas katolik di pekarangan tersebut. Mama bercerita saat itu banjir air bercampur lumpur setinggi lebih dari 1 meter, masuk ke dalam rumahnya.

Mereka bertahan di loteng rumah bersama 30 warga lainnya, hingga bantuan untuk mengungsi datang. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga hasil kebun yang diharapkan untuk menyambung kehidupan sehari-hari. Saat ini mereka bertahan hidup dari bantuan sembako yang disalurkan oleh pemerintah setempat maupun LSM.

Cerita pilu lainnya dari dusun Kobadein, Kab. Malaka Tengah. Seorang mama bercerita mereka bertahan hidup di atas atap rumah selama 2 hari tanpa makan dan minum hingga bantuan datang. Mereka sangat bersyukur keluarga dan tetangga sekitarnya selamat semua, hanya harta yang hilang.

Di negeri batas Timor Leste ini, bahasa kemanusiaan dan nasionalisme begitu terasa, tanpa ada sekat pemisah agama, ras, ataupun pandangan politik. Semoga akan selalu ada semangat berbagi untuk saudara kita yang membutuhkan.

Tim Relawan MER-C untuk NTT

Artikel Terkait

Back to top button