INTERNASIONAL

Organisasi Arab Al-Berr Bayar Pria yang Menikahi Perempuan Diatas 30 Tahun

Ilustrasi : Pasangan Arab Mau Menikah (Foto-dewe)

(SI Online) – Bersediakah Anda menikah demi uang? Sebuah organisasi di Arab Al-Berr bersedia membayar pria untuk menikahi perempuan berusia di atas 30 tahun, demikian diberitakan dewe.

Menemukan pasangan seumur hidup bisa jadi keberuntungan yang tak ternilai harganya. Namun orang-orang di organisasasi amal Al Berr dari Arab Saudi melihatnya berbeda. Organisasi di Arab Saudi tersebut telah memicu sebuah kontroversi yang sengit dengan menawarkan uang pada pria sebesar 20 ribu riyal atau sekitar 5.000 dollar AS, jika mereka menikahi perempuan berusia di atas usia 30 tahun.

“Siapa pun yang memiliki ide ini, pemikirannya jauh tertinggal dan tidak tahu apa-apa,” kata seorang kritikus atas hal tersebut. Demikian dilansir dari Huffingtonpost.

Kepala organisasi tersebut, Abdul Rahman Al Hameed, mengatakan kepada portal berita “Akhbaar 24”, mereka ingin membantu mendorong pria untuk menikah.

Di Twitter, banyak warga Arab menyatakan amarah mereka atas inisiatif tersebut. Terutama, karena gagasan tersebut dibungkus sebagai bentuk layanan amal. “Ini adalah penghinaan terhadap semua perempuan,” papar seorang pengguna media sosial.

Pengguna medsos lain berkata: “Sejak kapan perempuan jadi barang jualan?” Lainnya lagi menulis: “Jika seorang perempuan tidak pernah menikah, tidak akan membuatnya mati karena itu.” Sementara pengguna medsos lainnya menulis: “Siapa bilang perempuan ingin menikah dengan pria yang dibayar untuk menikahinya?”

Kritik-kritik yang dilontarkan di medsos menunjukkan, ada kebiasaan pernikahan berbeda di negara berbeda. Menurut Kantor Statistik Federal, menikah pada usia di atas 30 tahun adalah hal yang umum di Jerman. Laki-laki lajang menikah rata-rata pada usia 34 tahun, sementara rata-rata perempuannya berusia 32 tahun.

1,5 Juta Wanita Saudi Jadi Perawan Tua
Kekhawatiran terbaru yang diungkapkan oleh Mohammad Al Abdul Qadir, kepala Wiam Family Care Society, sekitar 1,5 juta perempuan Saudi berusia diatas 30 tahun jadi perawan tua (belum menikah). Saudi menyerukan solusi radikal untuk membantu mengatasi fenomena yang berkembang pada perempuan yang belum menikah di negara itu.

“Angka tersebut mewakili 33,4 persen dari jumlah perempuan di Saudi,” katanya pada harian lokal Makkah Gulfnews “Kami perlu bekerja dengan visi baru bagi keluarga Saudi untuk sepuluh tahun ke depan. Perlu solusi berdasarkan konsolidasi nilai-nilai solidaritas keluarga dan keterpaduan untuk menghadapi beberapa fenomena, khususnya perawan tua,” katanya.

Beberapa aktivis perempuan Saudi mengatakan, sosok wanita yang belum menikah di Saudi yang juga negeri kerajaan itu jumlahnya  sekitar dua juta. “Ini adalah angka yang sangat fantastis, menakutkan dan merupakan bencana sosial yang tidak menyenangkan. Harus ditemukan solusi yang tepat untuk fenomena ini,” kata aktivis Saudi yang tidak disebutkan namanya.

Namun, beberapa wanita Saudi menolak untuk menggolongkan perawan tua sebagai fenomena yang berbahaya. Mereka menjelaskan banyak wanita lebih memilih untuk tetap tidak menikah karena pilihan.

“Ada orang-orang yang menolak untuk menikah karena satu alasan atau yang lain dan ada orang-orang yang memilih untuk sukses dalam hidup mereka daripada masuk ke pernikahan,” kata mereka.

Menurut harian itu, banyak pria yang belum menikah mengatakan, mereka tidak memiliki sumber pendapatan tetap yang memungkinkan mereka memulai membangun sebuah keluarga.

Beberapa pengamat sosial di negara itu mengatakan, masalah dan penyebab banyaknya perawan tua dari satu negara dengan negara yang lain berbeda. “Di Arab Saudi, masalah utamanya adalah beberapa keluarga meminta mahar yang tinggi,” kata salah satu sumber dari pengamat masalah sosial negara itu.

Sumber itu menambahkan, selain mahar yang tinggi, juga masalah biaya yang sangat besar pada upacara pernikahan. Masalah seperti itu justrru akan mendorong pemuda di negeri ini untuk mencari istri dari negara lain.

Meskipun pria Arab dan negara teluk lainnya lebih suka menikahi perempuan lokal, namun ribuan dari mereka mengambil istri dari luar negeri. Ketidakmampuan membayar sejumlah besar uang sebagai mas kawin, upacara pernikahan dan biaya hidup yang tinggi disebut-sebut sebagai alasan utama para pria negara Teluk untuk menikahi wanita negara non-Teluk.

Fenomena ini mendorong negara-negara Teluk mencari cara untuk mengatasinya. Salah satu pilihan adalah mendorong konsep pernikahan massal dalam upaya membantu calon pengantin pria dan wanita yang kurang mampu dengan tingginya biaya acara pernikahan.

Sumber : dewe/naggroe‍ ijoe

Artikel Terkait

Back to top button