SURAT PEMBACA

Pak Menag Sibuk Urus Radikalisme, Apa Sudah Habis Masalah Genting di Negeri Ini?

Menteri Agama Fachrul Razi membeberkan cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

Menurut Pak Menteri, cara masuk orang-orang radikal ini, yakni dengan mengirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus dan hafiz Al-Qur’an ke masjid-masjid. Pernyataan Pak Menteri ini disampaikan dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9). (cnnindonesia.com, 3/9/2020).

Pak Menteri, suka sekali membuat kontroversi. Masih hangat pernyataan Pak Menteri untuk mencegah siapa saja yang memiliki pemikiran khilafah menjadi ASN. Now, Pak Menteri kembali membuat pernyataan yang lucu sekali.

Pak Menteri, why khilafah dan radikalisme kembali disoroti? Apakah sudah habis masalah krusial di negeri ini? Apakah masalah khilafah dan radikalisme ini lebih penting daripada mengurusi hajat hidup rakyat?

Mengingatkan kembali segunung masalah yang menjerat negeri ini. Mulai dari pandemik yang kian mengganas, gelombang besar resesi ekonomi yang menghantam, liberalisme yang kian mencengkeram, kriminalitas yang meningkat, sengkarut pendidikan yang kian ambyar, angka pengangguran dan kemiskinan yang kian dahsyat, kasus perceraian dan KDRT yang semakin nyata. Adalah sederet daftar panjang masalah rakyat yang semestinya dituntaskan oleh penguasa.

Menjadikan khilafah dan radikalisme sebagai kambing hitam. Sejatinya, penguasa tengah mengonfirmasi ketidakbecusan dan kegagalan kapitalisme mengurus negeri ini. Sinyal ketakutan penguasa akan kebangkitan Islam pun tampak jelas, sehingga berupaya memfitnah Islam dan umatnya. Salah satunya dengan isu radikalisme untuk menghadang kembalinya khilafah ke pangkuan umat.

Pak Menteri, sudahi saja statement panjenengan yang lucu dan bikin ngguyu itu. Cukup. Rakyat butuh solusi solutif, bukan pernyataan nyleneh para petinggi negeri. Rakyat butuh kesejahteraan, bukan gorengan garing yang tidak membuat perut kenyang. Rakyat butuh hidup aman dan nyaman, bukan gelisah memikirkan ulah para penguasa yang tidak peduli pada mereka.

Pak Menteri, akhiri saja ‘kontrak kerja’ di antara kita, jika bapak tidak amanah. Alih-alih mengurusi aturan agama agar dapat diterapkan secara kafah. Pak Menteri justru sibuk mengurusi radikalisme yang tidak jelas definisi dan aturannya.

Rakyat membutuhkan penguasa yang amanah yang menjadi teladan dan pengayom mereka. Bukan pemimpin yang membuat rakyat was-was dalam kesulitan. Sungguh rakyat sudah lelah hidup dalam naungan sistem rusak yang penuh PHP ini.

Jadi Pak Menteri, rakyat membutuhkan pemimpin amanah dan sistem sahih untuk mengurus seluruh hajat hidup mereka. Sistem ini jelas bukan kapitalisme yang terbukti rusak dan merusak. Sistem yang terbukti melahirkan penguasa korup dan mata duitan. Sistem yang gagal mengayomi dan mengurusi hajat hidup rakyat.

Sistem sahih ini yakni Islam. Sebuah akidah yang memancarkan seperangkat aturan yang ideal bagi manusia. Yang memiliki konsekuensi untuk diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari individu hingga institusi negara dalam bingkai khilafah. Sebuah sistem pemerintah Islam yang Pak Menteri cs terus-terusan framing jahat. Padahal cahaya khilafahlah yang mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Wallahu’alam bishshawwaab.

Jannatu Naflah
Aktivis Dakwah Muslimah, Pegiat Literasi

Artikel Terkait

Back to top button