NASIONAL

Pak Tammat, Jejak Dakwahnya tidak akan Tamat

Jakarta (SI Online) – “Kami pulang saja, Pak Tammat masuk ICU,’’ ujar KH Fathur Rohman, Direktur Ma’had eLKISI Mojokerto, Kamis 26 September lalu di Pekanbaru.

Sedianya, usai menyalurkan bantuan jamaah eLKISI buat korban polusi asap di Riau, ia akan mendampingi Ustaz Abdul Somad (UAS) bersafari dakwah ke Kabupaten Kampar, 28-29 September. Namun, khawatir dengan kondisi Tammat Anshory Ismail di rumah sakit, Kiai Fathur memutuskan terbang ke Surabaya ba’da subuh (27/9).

Bagi Kiai Fathur, Pak Tammat adalah salah satu guru kehidupannya. Tammat Anshory Ismail (73) adalah salah satu tokoh pergerakan Islam di Jawa Timur. Ia lama berkecimpung di Pelajar Islam Indonesia (PII) dan pernah menjadi Ketua Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Timur. Ikut membidani lahirnya Partai Bulan Bintang (PBB) dan menjadi anggota DPRD Jatim dari PBB Periode 1999-2004.

‘’Saya menganggap, tiga orang paling mempengaruhi hidup saya adalah Pak Tammat, Bang Hussein Umar (alm, Ketua Umum Dewan Da’wah 2005-2007), dan Kyai Subroto (alm, pendiri Ponpes Al Fattah Sidoarjo),’’ katanya suatu ketika.

Sepulang dari Riau, Kiai Fathur masih sempat membesuk sang guru di rumah sakit. Alhamdulillah, saat itu bahkan kondisi Pak Tammat membaik.

Namun, justru ketika Fathur Rohman dan pimpinan eLKISI tengah bermuhibah ke Jakarta-Depok mengunjungi Ustaz Annuri, Fahmi A Salim, dan Ustaz Adian Husaini, Pak Tammat berpulang.

“Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun, pada Rabu (9/10) pukul 11.55 WIB, Tammat Anshory Ismail meninggal dunia di RS Haji Surabaya dalam usia 73 tahun.” Demikian Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur, Sudarno Hadi, mengabarkan. Fathur Rohman dan rombongan langsung ngebut mobilnya balik ke Surabaya.

Sebelum wafat, Pak Tammat bersama Ustaz Sudarno sempat menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) eLKISI ke-9 di Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (21/7/2019).

Kehadiran beliau juga menjadi kenangan tersendiri bagi Dr Daud Rasyid Sitorus, yang ketika itu didapuk sebagai pembicara Silatnas.

‘’Dalam tahun 2019 ini saya punya dua kali kenangan dengan almarhum (Pak Tammat). Salah satunya pada acara eLKISI di Mojokerto tiga bulan lalu, beliau hadir,’’ ungkap Daud Rasyid, Rabu (9/10).

Waktu itu, lanjut Daud Rasyid, dirinya duduk di sebelah Pak Tammat. Kepadanya, Daud Rasyid berbisik, kenapa Pak Tammat memaksakan hadir padahal kondisinya sedang tidak fit. Dengan senyumnya yang khas, Pak Tammat menjawab, ‘’Tenang saja Ustaz, Saya ingin menjumpai Antum.’’

Kepedulian pada dakwah, membuat Pak Tammat merasa sehat terus dan tak pandang bulu dalam bersilaturahim. Ia bergaul dengan para dai senior, pun tak sungkan duduk melingkar dan makan nasi bungkus bersama mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia di Masjid Al Hilal, Surabaya.

Zulfi Syukur (kanan) bersama almarhum Tammat Anshory Ismail di rumah sakit.

Zulfi Syukur, salah satu senior di Dewan Dakwah Pusat, mengungkapkan bahwa Pak Tammat tak bisa dicegah untuk mengikuti Aksi Bela Islam 212 pada 2016.

Waktu itu, tiba di Stasiun Senen, Jakpus, Pak Tammat dan rombongan dari Jatim lalu berjalan kaki ke Markas Dewan Dakwah di Jl Kramat Raya 45. Zulfi turut mendampinginya. Di Masjid Al Furqon, Pak Tammat membaur dengan ribuan orang dari berbagai kota.

Usai demo, barulah Pak Tammat tumbang. Ia harus mendapat perawatan medis.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button