NUIM HIDAYAT

Peringatan Maulid Bid’ah?

Alhamdulillah sejak kecil saya biasa hidup dalam perbedaan. Almarhum bapak yang aktivis Muhammadiyah (Masyumi) dan Ibu yang NU, membuat saya memahami arti perbedaan.

Sejak kecil, bapak mengarahkan saya sekolah atau kuliah di perguruan tinggi umum, sedangkan ibu mengarahkan mengaji ke kiai. Bapak berlangganan majalah Panji Masyarakat dan Al Muslimun, ibu menyuruh agar sering ke surau. Maka alhamdulillah saya akhirnya bisa menyelesaikan kuliah di IPB dan UI dan terus dekat sama ustaz atau kiai.

Maka ketika ada beberapa teman menyatakan maulid bid’ah, saya menyodorkan dalil-dalil yang membolehkan acara maulid. Saya ingin mengajak teman-teman biasakanlah hidup dalam perbedaan. Apalagi perbedaan itu dibingkai Al-Qur’an, Sunnah dan ijtihad ulama yang saleh.

Ketika masa kecil, saya merasakan kenikmatan mempelajari Islam lewat kiai-kiai NU. Ngaji kitab kuning, maulidan, tahlilan dan lain-lain. Yang saya senang adalah ketika malam Jumat datang. Kita biasanya mengucap tahlil bersama dan kemudian bareng-bareng makan jajanan yang disediakan para jamaah di surau.

Yang paling senang ketika kanak-kanak adalah kita menyanyikan nasyid bersama sebelum iqamah datang. Nasyid yang isinya syair-syair yang Islami itu menambah semarak surau yang terletak di pinggir sungai yang ujungnya sampai Bengawan Solo.

Ya, kita berIslam dengan bergembira, tidak tegang, dan gampang berantem. Bahkan sesama muslim.

Ketika remaja, saya ikut kegiatan masjid yang dibina aktivis-aktivis Muhammadiyah. Di kampung saya, Kuncen, Padangan, Bojonegoro memang sebagian penduduknya NU dan sebagiannya Muhammadiyah.

Kini kita bicara tentang maulid. Saya melihat memperingati hari ulang tahun (Maulid) kini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang NU. Tapi juga oleh ‘orang-orang Masyumi.’ Cuma caranya yang beda. Kalau di NU biasanya selalu ada haul tahunan, kaum Masyumi (Muhammadiyah, Dewan Da’wah, Persis dll) biasanya melakukan ulang tahun dengan meluncurkan buku, membuat karya dan lain-lain.

Teman-teman almarhum Mohammad Natsir dari Dewan Da’wah misalnya saat Natsir masih hidup, membuat kenang-kenangan 70 tahun Natsir dan 80 tahun Natsir. Setelah Buya Natsir wafat, dibuat buku kenang-kenangan 100 tahun Natsir. Begitu pula Buya Hamka kadang-kadang diperingati juga ulang tahunnya.

Maka janganlah gampang membidahkan. Masalah definisi bid’ah saja para ulama berbeda-beda mendefinisikannya. Ada yang menyatakan semua bidah haram dan neraka. Ada yang menyatakan ada berbagai jenis bid’ah. Bid’ah hasanah, bid’ah dhalalah dan sebagainya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button