#Tragedi KM50MUHASABAH

Pesan Pasca Pelarangan “FPI”

Banyak orang yang naif. Melihat hadirnya FPI (Front Pembela Islam) hanya dari satu produk. Menutup mata pada kontribusi nyata, atau hal positif yang mereka lakukan. Labeling selalu menjadi cara meredam opini publik.

Tuduhan sebagai orang fundamentalis, sampai kini masih mewarnai jagat media. Maksudnya apa sih, itu?

Apa cara klasik untuk menjegal tokoh agamawan yang amat cinta pada agamanya. Sesuai apa yang mereka pahami atau jalan juang yang mereka pilih.

Itu, sungguh sikap kotraproduktif dengan amanah konstitusi agar merangkul mereka yang ingin negara maju dan makmur secara hakiki.

Kalau masalah sikap dan gerakannya yang kontroversi terus jadi sorotan. Kenapa tidak mengaca pada realitas sosial kita; kenapa mereka melakukan sejauh itu?

Pasti tahulah, kalau kita memakai kaca mata kemanusiaan. Ada banyak problem bangsa yang seakan negara dan penegak yang berkecimpung di sana, diam. Bahkan ada yang radikal lagi ekstrem jadi beking laku amoral lagi kotor itu.

FPI sedang persetan oknum nakal itu. Agar apa? Tak lain, agar yang benar tetap optimis dan merasa disuntikkan moril untuk istiqamah menumpas laku lalim lagi tentang hukum yang terjadi.

Sayangnya, banyak yang gerah dan tak mau merenungi alsaan sepakterjang itu. Mereka memilih diam dan fokus pada nalar yang satu arah. Abai pada masalah besar yang hari ini masih berkeliaran di sekitar kita.

FPI memang sudah bubar, tak masalah. Muncul lagi nama baru dengan akronim sama. Seolah sinyal rasa kesal, “eih ente kok mengamkan kita, noh, mafia di banyak lini yang segera harus diciduk. Fokus pada kite!”

Tapi, ya sudah. Namanya juga ngomongin rasa, kalo tak sejalan susah. Pisau analisisnya bukan adil kepentingan. Ya, berat sebelah.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button