SUARA PEMBACA

Resesi Membayangi, Apa yang Harus Dilakukan?

Dampak pandemi Covid-19 benar-benar memukul perekonomian global. Beberapa negara besar mengalami resesi, seperti AS, Korea Selatan, Jerman, Italia, Perancis, Jepang, Hongkong, Singapura, Filipina, dan terbaru Inggris. Pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut mengalami kontraksi. Hal ini disebabkan karena menurunnya konsumsi rumah tangga, ekspor, perdagangan, manufaktur, jasa, dan investasi. Sebagai efek penerapan pembatasan sosial dan lockdown di negara tersebut.

Di antara indikator makro sebuah negara mengalami resesi adalah pertumbuhan ekonomi minus, inflasi, defisit perdagangan, hingga nilai kurs mata uang. Sebagaiman dikutip dari The Balance.com, disebutkan ada 6 indikator yang lebih presisi untuk mengetahui apakah resesi sudah terjadi. Pertama, penurunan produk nasional bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Kedua, penurunan PDB sebanyak 1,5 persen. Ketiga, penurunan kegiatan manufaktur selama periode 6 bulan. Keempat, penurunan pekerja non pertanian sebanyak 1,5 persen. Kelima, menurunnya jumlah lapangan kerja di lebih dari 75 persen industri selama 6 bulan atau lebih. Keenam, peningkatan angka pengangguran sebanyak 2 poin, minimal di angka 6 persen.

Dampak ekonomi saat resesi terjadi sangat berpengaruh pada kegiatan ekonomi. Saat nilai investasi anjlok, akan menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan. Saat itu terjadi, PHK massal akan naik secara signifikan yang juga menaikkan angka pengangguran. Ketika masyarakat menganggur, angka kemiskinan bisa naik. Jika itu terjadi secara terus menerus, bukan tidak mungkin ekonomi negara akan mengalami depresi, krisis, lalu bangkrut.

Pandemi covid-19 hanyalah pemicu munculnya resesi. Sejatinya, resesi atau krisis yang dialami sebuah negara berawal dari fondasi sistem ekonominya yang memang rentan krisis. Sistem ekonomi kapitalisme memiliki potensi krisis berulang. Sebabnya adalah: pertama, karena kapitalisme ditopang sistem moneter berbasis fiat money. Penggunaan fiat money sebagai mata uang yang tidak stabil sudah tidak terbantahkan lagi. Alasan mendasar ketidakstabilan fiat money adalah karena secara alamiah ia memang tidak stabil.

Stabilitas fiat money bergantung pada sekuat dan sejauh manakah suatu negara mampu menjaga perekonomiannya secara kuat dan tahan terhadap berbagai goncangan baik dari sisi internal maupun eksternal. Dalam berbagai teori ekonomi telah disebutkan dan dibuktikan bahwa uang dalam jangka panjang bersifat inflasionary dan unstable.

Kedua, sistem kebijakan fiskal yang bertumpu pada pajak dan utang. Dalam prinsip kapitalisme, pajak menjadi sumber devisa negara. Saat terjadi resesi, mau tidak mau sistem perpajakan yang menjadi pilar perekonomian negara ikut ambruk. Jika nilai pajak terhadap barang tinggi, siapa yang mau membeli? Daya beli masyarakat akan menurun drastis. Itulah mengapa, negara akan menurunkan nilai pajak bila ekonomi terancam krisis. Sebagai upaya menstimulus agar kegiatan ekonomi kembali produktif.

Begitupun utang. Utang justru menjadikan negara bergantung pada negara besar ataupun lembaga kreditor seperti IMF, World Bank, atau ADB. Celakanya, utang juga menjadi solusi andalan saat negara mengalami defisit. Apalagi jika mengalami resesi, utang dijadikan stimulus untuk membangkitkan gairah ekonomi yang lesu akibat pandemi.

Lembaga konsultan McKinsey memperkirakan, defisit negara-negara di dunia diperkirakan mencapai 9-10 triliun dolar AS pada 2020 dan secara kumulatif hingga 2023 bisa mencapai 30 triliun dolar AS. “Sudah ada kekhawatiran bahwa beberapa negara akan berjuang untuk memenuhi komitmennya kepada kreditor, memicu krisis utang yang akan bergabung dengan krisis ekonomi akibat COVID-19,” jelas McKinsey dalam laporan bertajuk “The Great Balancing Act: Managing the Coming $30 trilion deficit while restoring economic growth”. Dengan pertumbuhan penerbitan surat utang tersebut, McKinsey mengingatkan rekor utang suatu negara akan mengganggu pemulihan ekonomi jika tidak dikelola dengan baik. (Tirto.id, 12/08/20)

Ketiga, sistem finansial yang bertumpu pada sektor non riil seperti pasar saham. Saat ekonomi membaik, harga saham ikut naik. Saat ekonomi terpuruk, pasar saham pun bisa ambruk. Sistem finansial dalam kapitalisme lebih banyak menjadi sarana spekulasi ketimbang sebagai sarana mendukung kegiatan pembiayaan di sektor riil. Saat terjadi krisis, sektor riil-lah yang distimulus untuk menaikkan kembali roda perekonomian. Tak heran bila sektor UMKM dan ultra mikro diberi stimulus dana untuk menggerakkan perekonomian domestik.

Bila negara-negara maju sudah masuk jurang resesi, bagaimana dengan negara berkembang seperti Indonesia? Banyak pakar ekonomi memprediksi Indonesia mau tidak mau akan masuk jurang resesi. Pemerintah berupaya agar pada kuartal III, ekonomi Indonesia tidak mengalami kontraksi. Berbagai kebijakan diaruskan mulai dari pemberian bantuan sosial untuk masyarakat miskin, bantuan langsung tunai untuk pekerja dibawah gaji Rp5 juta, bantuan untuk korban PHK, hingga stimulus fiskal demi menggerakkan roda perekonomian.

Sebagai negara yang mengadopsi kebijakan ekonomi kapitalisme, hampir dipastikan Indonesia akan terdampak pula. Kalaulah negara maju saja sekarat menghadapi resei, tak berdaya di hadapan pandemi, sudah barang tentu negara berkembang kena imbasnya. Baik karena resesinya, utangnya, pajaknya, ketergantungannya, dan investasinya.

Resesi atau krisis yang melanda sebuah negara dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya berupa sistem tata kelola negara yang melandasi dan pola hidup masyarakat yang terpengaruh sistem tersebut. Faktor eksternalnya berupa peristiwa eksternal seperti siklus bisnis, bencana alam, wabah penyakit, sistem moneter internasional, dan situasi politik yang terjadi di negara tersebut.

Apa yang harus dilakukan saat resesi terjadi? Hal ini bisa dilakukan dalam 3 aspek. Pertama, tata ulang sistem kenegaraan. Ketika suatu negara tidak tepat mengurai masalah, hal itu akan berefek pada kebijakan selanjutnya. Saat virus corona melanda suatu wilayah, maka yang harus dilakukan adalah karantina wilayah. Tujuannya, agar virus itu tidak menyebar dan menulari wilayah lain. Sayangnya, negara-negara di dunia tidak melakukan itu. Saat virus melanda, akses keluar masuk wilayah yang terinfeksi virus masih terbuka lebar. Alhasil, covid-19 dengan cepat menyebar hingga ke lebih dari 200 negara.

Akibat kesalahan ini, pandemi memukul perekonomian secara global. Resesi menghantui, ekonomi negara mandek berbulan-bulan. Lalu harus bagaimana? Kalau kapitalisme sudah banyak cacat disana sini, lalu harus merujuk pada apa? Sejarah mencatat, sistem ekonomi Islam terbukti antikrisis. Bertopang pada sektor riil, penggunaan mata uang berbasis emas dan perak (dinar-dirham), sistem ekonomi non riba, tata kelola aset kepemilikan yang antiserakah, menjadikannya layak dijadikan solusi alternatif. Adapun pajak dalam Islam hanya dilakukan ketika negara mengalami kondisi tertentu dan bersifat sementara. Tidak dijadikan sumber pendapatan negara.

Kedua, memperbaiki pola kehidupan masyarakat. Masyarakat yang terbina dengan Islam tidak akan menimbun harta untuk kepentingan pribadi. Hartanya yang banyak akan digunakan untuk kemaslahatan rakyat. Tidak seperti kehidupan masyarakat kapitalis yang hedonis, individualis, serakah, dan curang. Dalam Islam ada dorongan ruhiyah dalam melakukan transaksi ekonomi. Kegiatan ekonomi yang dijalankan, selain untuk mendapat keuntungan, mereka juga memperhatikan keberkahan dalam berbisnis.

Ketiga, mengelola ketahanan keluarga saat krisis. Mengutip dari apa yang disampaikan pengamat ekonomi, Nida Sa’adah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan keluarga dalam memanajemen keuangan di masa krisis. Pertama, mencontoh gaya hidup Rasulullah Saw, yaitu bergaya hidup sederhana; Mengedepankan needs (kebutuhan), bukan wants (keinginan); Mengedepankan halal-haram, mengabaikan pandangan manusia adalah kunci keberhasilan untuk meraih itu. Kedua, mengatur pengeluaran berdasarkan pemasukan. Ketiga, tetap menginfakkan harta, baik saat lapang ataupun sempit.

Menghadapi resesi, perlu sikap bijak memandang situasi dan kondisi. Bijak melihat akar persoalan dan memberi solusi yang tepat untuk membangkitkan kembali perekonomian negara. Pandemi covid-19 memberi pesan untuk kita. Sistem kapitalisme tak cukup kuat bertahan dalam krisis. Berpotensi bangkit dan terpuruk berulang kali. Bukankah saatnya kita membuka cakrawala berpikir kita? Ada sistem yang mampu bertahan menghadapi krisis dan memberi harapan untuk kesejahteraan umat manusia. Sistem Islam sebagai upaya alternatif untuk mengatasi problematika yang melanda dunia dan Indonesia khususnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Back to top button