AKIDAH

Siapakah Ashabul A’raf Itu?

Beriman kepada yang ghaib adalah bagian dari iman dan akidah yang shahih, sungguh menjadi tanda tanda akhir zaman bahwa banyak di antara umat yang mulai tidak lagi percaya akan hal tersebut.

Sehingga banyak mereka tidak mempedulikan lagi bentuk maksiat dan kezaliman, tenggelam dalam kenikmatan dunia melalaikan adanya siksa kubur dan jahannam.

Adalah mereka yang kekal jadi penghuni dan penduduk di neraka. Apabila penghuni neraka yang masuk ke sana karena dosa-dosanya, telah keluar semuanya dari negeri celaka itu, dan tinggal orang-orang kafir saja yang menjadi penghuninya, maka mereka tidak akan mati dan tidak pula hidup. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

ذٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ ءَايٰتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا  ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan, dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat.” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 35)

Maksudnya, tidak ada jalan untuk melepaskan mereka dari neraka bahkan mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah orang-orang yang dinyatakan oleh al-Qur’an sebagai kaum tahanan dan diputuskan kekal di sana.

Akan ditemui suatu kelompok atau golongan yang disebut Ashabul A’raf. Syaikh Abdurrahman Nasir as Sa’di berkata dalam tafsirnya, mereka adalah manusia yang amal kebaikan dan kejahatannya sama banyaknya

Ibnu Abbas dan lainnya mengatakan, bahwa A’raf adalah pagar yang terletak antara surga dan neraka.

Sedang al-‘Ataby meriwayatkan dari Shilah bin Zufar, dari Hudzaifah, dia berkata, “Ashabul-A’raf adalah orang-orang yang diselamatkan oleh kebaikan-kebaikannya dari neraka, namun terhalang oleh dosa-dosanya untuk masuk surga.”

Beberapa perkataan sahabat yang berkenaan dengan hal ini diantaranya adalah Perkataan Hudzaifah: “Ashabul A’raf adalah kaum yang mana antara kebaikan dan keburukan mereka seimbang.

Perkataan Ibnu Mas’ud: “Barang siapa yang kebaikan dan keburukannya seimbang maka ia adalah ashabul A’raf.”

Allah Ta’ala, berfirman:

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ  ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمٰىهُمْ  ۚ وَنَادَوْا أَصْحٰبَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ  ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A’raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, Salamun ‘alaikum (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 46)

وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحٰبِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِينَ

“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 47)

Dari beberapa keterangan di atas dapat kita ketahui bahwa ashabul a’raf adalah suatu kaum yang mana kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan seimbang. Mereka ditempatkan di sebuah tempat yang terletak antara surga dan neraka. Kemudian setelah semua ahli surga dimasukkan kedalam surga maka ashabul a’raf juga dimasukkan oleh Allah kedalam surga.

Maka yang terbaik bagi kita adalah berusaha untuk tidak menjadi bagian dari mereka, karena meskipun mereka pada akhirnya dimasukkan kedalam surga tetapi mereka harus menunggu terlebih dahulu beberapa saat hingga Allah menghendaki untuk memasukkan mereka ke dalam surga.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Back to top button