MUHASABAH

Siswa Viral di Sumbar Sana

Mungkin bagi sebagian orang ini masalah klasik, belajar terganjal modal. Proses belajar-mengajar yang terlebih di masa pandemik yang difokuskan untuk online. Tak lain untuk meminimalisir merebaknya klaster positif-Covid 19.

Tapi mau bagaimana, hal ini menjadi beban bagi mereka yang berkantong tipis dengan aneka kebutuhan menumpuk.

Di Sumatra Barat, ada seorang guru membagikan video di akun TikTok terkait kunjungannya kepada siswanya.

Pasalnya siswa yang entah siapa namanya tidak mengikuti proses belajar. Melalui Hp kakaknya ia memastikan bahwa ia akan keluar dari sekolah. Tak masalah lain kuota internet yang membebankan kantong keluarganya.

Ibu Eva yang peka jiwanya berkomunikasi dengan guru BP sekolahnya. Disepakati untuk menengok TKP agar tahu kebenarannya.

Desa yang terlihat asri itu pun terpotret. Dua guru ini pun singgah di salah satu rumah sederhana yang ternyata tempat tinggal muridnya.

Ibu siswa langsung menemui dan menjelaskan duduk perkaranya serta membenarkan apa yang dicurhatkan anaknya. Di sanalah fakta terlihat, betapa potret kemiskinan masih marak vulgar terlihat.

Pandemik menyiksa dengan segala geraknya, di sisi lain kita dipaksa untuk bertahan hidup. Saya pikir tak hanya Ibu siswa yang mengeluh, di rumah ibu saya juga suka mengeluh dengan realitas. Ini fakta pahit yang merasuk di jiwa.

Adik saya yang biasanya anteng dengan hape jadulnya, pas pandemik dipaksa untuk punya hape canggih. Tak ada pilihan ibu pun siapkan anggaran untuk membeli hape. Tak hanya itu sih, kuota juga yang tak boleh kendor.

Adik saya memang tidak masuk, dia tahu kondisi keluarga. Tapi dia ketinggalan tema sehingga harus mempersiapkan waktu lebih mencatatnya. Itupun kalau ada pesan yang berkenan meminjamkan, kalau tak ada, ya pasrah dan menggerutu. Mau apalagi.

Ya, memang kabar serupa seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Fenomena gunus yang terhalang terendus naluri.

Pemerintah tengah bekerja dan sudah menggelontorkan dana untuk membantu warganya yang tengah tenggelam dalam belitan. Tapi belum maksimal dan ada sebagian yang kurang efektif. Apalagi ditambah dengan maraknya “digarong” mereka yang tak punya naluri dan amanah pada tahta yang diberi. Sungguh, jerit pun semakin menggedor palung jiwa.

Tapi kan, banyak juga remaja sekolah bisa leluasa main game online, lah itu apa?

Benar sekali dan itu banyak. Akhirnya menjadi potret suram remaja negeri. Tempat lain yang mati-matian mengumpulkan uang untuk membeli kuota agar bisa terus belajar, tak jarang mereka bekerja menyingsingkan baju untuk membantu beban orangtuanya. Di tempat lain, remaja kita abai dan hanyut oleh hura-hura kemajuan teknologi. Kuota seperti makanan, satu giga bisa amblas satu hari. Bisa lebih, bisa kurang. Tergantung sikon dan penggunaan.

Ya, inilah paradoks negara kaya dan banyak ramai janji menjelang pemilu rutin. Semua teriak demi rakyat dan sejahteranya rakyat. Tumpah darah utamanya, pada wujudnya laku di Sumbar itu seperti mencekik mereka yang pandai berjalan. Sampai juga ada, remaja putus bunuh diri karena beban kuota ini. Ya Allah, rasanya amat sakit melihatnya. Mau membantu materi tak bisa, ingin memberi motivasi malu, ya hanya doa ikhlas disenandungkan.

Lalu, apa potret serupa hanya jadi pajangan di medsos tanpa mau dijamah mereka pemegang amanah rakyat?

Saya tidak tahu, karena saya bukan siapa-siapa. Tanyalah mereka yang kini tengah sibuk koar-koar perihal politik dan sibuk bahas kekuasaan. Mungkin akan ketemu jawabnya. Wallahu ‘alam. []

Pandeglang, 23/2/2021 10:21

Mahyudin An-Nafi

Artikel Terkait

Back to top button