SURAT PEMBACA

Solusi Stunting Bikin Pusing

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ia mengatakan pemenuhan gizi anak bisa dilakukan dengan memberi asupan telur dari ayam yang dipelihara tersebut.

Usulan ini kemudian didukung oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, kebutuhan ayam nasional akan terpenuhi jika usulan itu terealisasi. Syahrul berkata realisasi satu keluarga satu ayam tidak bisa terwujud hanya melalui program pemerintah. Dia berkata harus ada gerakan yang mendorong agar usulan itu terwujud. (cnnindonesia.com, 24/11/2019)

Darurat Stunting

Menteri Kesehatan sebelumnya Nila Moeloek menyampaikan angka stunting di Indonesia pada tahun 2019 adalah 27,67 persen. Meski angka ini diklaim turun namun angka tersebut masih di atas standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), yaitu 20 persen. Besarnya jumlah anak-anak di Indonesia menjadi korban krisis pangan menjadi “prestasi” lain, Indonesia menempati rangking ketiga di Asia.

Tentu menjadi tanda tanya besar melihat tingginya angka kasus stunting di negeri kita yang terkenal dengan semboyan gemah ripah loh jinawi yang artinya negeri tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya.

Apa yang terjadi pada negeri ini, ketika tanah subur yang terhampar luas di penjuru tanah air, ternak ayam di rumah yang menjadi solusinya. Katakanlah kita setuju dengan solusi tersebut, namun secara logika hal ini akan sulit direalisasikan. Bagaimana tidak, banyak masyarakat hidup dengan lahan yang minim bahkan tidak ada sama sekali. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk memelihara ayam mulai dari makanannya, vitaminnya sampai vaksinnya, tentu angkanya tidak kecil dibanding membeli langsung ayam potong atau telur di pasar.

Stunting Sistemik

Apakah benar jika dikatakan salah satu sebab stunting terjadi adalah karena kurangnya kesadaran masyarakat memenuhi asupan gizi dengan makan ayam dan telur?

Faktanya, dari luasnya lahan pertanian menunjukkan bahan makanan pokok di Indonesia cukup memadai. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan masyarakat untuk membelinya sangat beragam. Ketika harga pangan dipatok dengan harga tinggi, maka dipastikan ada sekelompok masyarakat yang tidak mampu untuk membelinya.

Dalam sistem kapitalis, harga dijadikan sebagai pengendali tunggal distribusi barang di tengah masyarakat. Hargalah yang akan menentukan siapa-siapa yang berhak mendapatkan barang dengan kualitas dan kuantitas tertentu, dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya sama sekali.

Solusi Stunting

Dalam Kapitalisme pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator, semua pelaksanaan diserahkan kepada individu atau swasta. Berbeda dengan Islam, di mana negara memiliki kewajiban untuk bisa menjamin kebutuhan pokok masing-masing individu di dalam negaranya.

Seorang pemimpin harus benar-benar memastikan masing-masing individu dalam masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok tersebut. Inilah prioritas utama yang diperhatikan negara, selain juga menjamin setiap kepala keluarga bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Nabi Saw bersabda: “Seorang iman (pemimpin) pengatur dan pemelihara urusan rakyatnya; dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka permasalahan stunting tidak bisa diserahkan begitu saja kepada keluarga dan masyarakat dengan gerakan satu rumah satu ayam. Namun perlu upaya serius dari negara untuk menyelesaikan masalah stunting dengan tuntas dan tidak hanya puas dengan menurunkan angka stunting saja. Karena korbannya adalah anak-anak kita, yang melalui tangan mereka kelak generasi bangsa ini diemban. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan Islam secara kaaffah yang dengannya keberkahan hidup tercapai.

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al A’raf [7] : 96).

Iiv Febriana
Komunitas Muslimah Rindu Syariah Sidoarjo

Artikel Terkait

Back to top button