NASIONAL

Survei Caketum PBNU: Marzuki Mustamar 24,7%, Said Aqil 14,8%, dan Gus Baha’ 12,4%

Jakarta (SI Online) – Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) merilis survei calon Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada posisi pertama muncul nama Ketua PWNU Jawa Timur, Marzuki Mustamar, sementara petahana Said Aqil pada posisi ketiga.

Survei ini dilakukan pada 23 Maret-5 April 2021. Basis sampel adalah 1.200 responden, dengan margin of error 3% dan tingkat kepercayaan 95%. Sebanyak 30,2% total responden berasal dari segmen masyarakat yang merasa memiliki kedekatan dengan NU.

Berikut ini hasil survei itu:

  1. KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur) 24,7%
  2. KH Hasan Mutawakkil Alallah (Mantan Ketua PWNU Jatim) 22,2%
  3. KH Said Aqil Siroj (Petahana) 14,8%
  4. KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha (Rais Syuriah PBNU) 12,4%
  5. KH Yahya Cholil Staquf (Katib Syuriah PBNU) 3,7%
  6. KH Marsyudi Syuhud (Ketua PBNU) 1,2%
  7. KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan (Wakil Ketua PWNU Jatim) 1,2%
  8. KH Ali Maschan Moesa (Mantan Ketua PWNU Jatim) 1,2%
  9. Tidak Tahu/ Tidak Jawab 18,5%

Direktur Eksekutif Indostrategic Khoirul Umam mengatakan temuan survei itu memang memiliki sejumlah catatan. Dari hasil crossed-tabulasi asal responden, kata Umam, angka-angka dukungan warga nahdliyin terhadap nama-nama tokoh dalam survei ini dipengaruhi oleh lebih terbukanya dukungan warga nahdliyin dari basis wilayah Jawa Timur.

“Sehingga menempatkan dua nama Kiai Senior asal Jawa Timur di dua posisi awal, yakni KH Marzuki Mustamar dan KH Hasan Mutawakil Alallah,” kata Umam dalam keterangan tertulis, Kamis (7/10/2021), seperti dilansir detik.com.

Umam mengatakan nama Said Aqil Siroj masih termasuk populer. Usulan nama Said Aqil juga disebut merata.

“Di sisi lain, nama KH Said Aqil Siroj memang termasuk masih populer dan usulan nama beliau muncul secara merata dari berbagai wilayah. Namun di sisi lain, munculnya nama-nama baru dengan dukungan warga nahdliyin yang memadai di bursa ini, juga bisa dipengaruhi oleh kuatnya aspirasi regenerasi kepemimpinan, untuk menghadirkan warna NU yang lebih fresh dan dinamis,” katanya.

Adapun munculnya nama Gus Baha, kiai muda asal Rembang, kata Umam, menunjukkan menguatnya ekspektasi warga nahdliyin terhadap pemberian peran kepada para Kiai Muda. Dia mengatakan kehadiran Gus Baha berkomitmen serius terhadap upaya penguatan tradisi intelektual pesantren yang belakangan dinilai sejumlah kalangan mengalami pergeseran metode pembelajaran dan output pendidikan pesantren yang diharapkan.

“Selain itu, media exposure Gus Baha di berbagai channel media sosial belakangan ini juga menambah literasi keilmuan sekaligus popularitas nama Gus Baha di kalangan warga nahdliyin secara general, khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur,” tuturnya.

Meski demikian, Umam mengatakan dinamika dukungan kekuatan politik terhadap nama-nama tersebut juga akan menentukan calon Ketua Umum PBNU potensial. Sebab, ketum dipilih oleh PWNU dan PCNU pada Muktamar mendatang.

Red: Agusdin

Artikel Terkait

Back to top button