SIRAH NABAWIYAH

Tabiat dan Bahaya Kaum Abu-abu

Mereka memerangi Islam atas nama Islam, membuat makar terhadap Islam dengan senjata Islam, mempermainkan hukum-hukum Islam atas nama pembaharuan (ishlah), keluwesan dan berpegang teguh pada jiwa syariat. Mereka juga memenangkan musuh-musuh Islam dengan menggunakan ‘jubah’ Islam.

Perang Tabuk adalah perang yang sangat berat dirasakan jiwa manusia. Berlangsung pada bulan Rajab tahun ke-9 hijriyah di puncak musim panas dan ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Perang ini sekaligus menjadi ujian dan cobaan berat yang membedakan siapa yang di dalam hatinya ada kemunafikan dan siapa yang benar-benar beriman.

Orang-orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, “Janganlah kalian berperang di musim panas.” Sementara itu, sebagian yang lain datang kepada Rasulullah Saw mangatakan, “Berilah izin kepadaku dan janganlah kamu menjerumuskan aku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku tidak mengenal orang yang lebih mengagumi wanita selain aku. Aku khawatir tidak dapat bersabar melihat wanita berambut pirang.” Rasulullah Saw berpaling darinya dan memberikan izin kepadanya. Kaum munafik ini dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul.

Salah satu pelajaran (ibrah) dari peristiwa ini adalah bahaya nifaq dan orang-orang munafik terhadap Islam di setiap masa. Islam adalah suatu pengakuan yang harus dibuktikan dengan jihad dan ujian sampai terbedakan mana yang benar dan mana yang dusta, mana yang benar-benar Mukmin dan mana yang munafik.

“Perang Tabuk merupakan materi utama dari pelajaran Qur’ani ini karena peperangan ini menjadi ujian Illahi terbesar kepada kaum muslimin yang dapat membongkar kedok kemunafikan di Madinah dan membedakan orang-orang munafik dari kaum Muslimin yang benar-benar beriman,” tulis Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy dalam kitab Fiqhus Sirah-nya.

Allah Swt secara berturut-turut dalam Al-Qur’an menurunkan ayat yang menjelaskan kejahatan mereka dan mengumumkan kepada kaum Muslimin akan rahasia-rahasia mereka yang harus diwaspadai disetiap tempat dan masa.

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka Katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (QS. At-Taubah [9]: 81-83).

Jika kita telah kembali ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat-ayat diatas, niscanya kita akan mendapatkan perhatian yang demikian besar dan menakjubkan tetang sikap orang-orang munafik dan peringatan dari bahaya mereka. Mereka berbahaya karena hampir setiap musibah dan kekalahan yang dialami kaum muslimin disebabkan oleh ulah orang-orang munafik.

Musuh kaum Muslimin tidak akan dapat menyusup ketengah barisan mereka kecuali melalui celah nifaq dan orang-orang munafik. Kaum Muslimin tidak pernah tertipu oleh musuh-musuh mereka sebagai mana tertipu oleh kaum munafik. Kaum Muslimin juga tidak pernah mengalami kelemahan, kelumpuhan, dan perpecahan sebagaimana disebabkan oleh orang-orang munafik. Mahabenar Allah yang berfirman :

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah [9] : 47)

Orang-orang munafik ini sangat berbahaya karena mereka memerangi Islam atas nama Islam, membuat makar terhadap Islam dengan senjata Islam, mempermainkan hukum-hukum Islam atas nama pembaharuan (ishlah), keluwesan dan berpegang teguh pada jiwa syariat. Mereka menghasilakan fatwa-fatwa pesanan untuk mencapai tujuan mereka atau menjilat tuan-tuan mereka.

Peperangan antara kaum Mukmin dengan orang-orang munafik akan terjadi sepanjang masa. Di era sekarang, saat kaum Muslimin berjuang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kaum Munafik ini menjadi kelompok yang menentang orang-orang mukmin. Mereka senang dan bahagia bila musibah menimpa orang beriman. Kaum munafik juga selalu membela kepentingan orang-orang kafir, melalui pernyataan-pernyataan aneh mereka yang dimuat di media massa yang juga dikuasai kaum munafik.

Saat orang-orang mukmin berjuang untuk memenangkan orang beriman menjadi pemimpin, orang-orang munafik ini justru mendukung calon pemimpin dari kalangan kafir dan anti Islam. Mereka sangat bahagia ketika orang-orang kafir dan anti Islam itu berhasil menguasai orang-orang beriman.

Ala kulli hal, pelajaran yang harus diambil kaum Muslimin dari hal ini bahwa kaum Muslimin harus mewaspadai orang-orang munafik seribu kali lipat dari musuh eksternal mereka. Kaum Muslimin juga harus segera menumpas kemunafikan manakala sudah mulai tumbuh di antara mereka. Wallahu a’lam.

(Shodiq Ramadhan)

Artikel Terkait

Back to top button