Tanpa Peringatan, Jet Tempur Israel Bantai Satu Keluarga di Apartemen Kota Gaza
Gaza (Suaraislam.id)-Serangan udara Israel yang menghantam sebuah apartemen pemukiman di bagian barat Kota Gaza telah menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai beberapa lainnya dengan luka berat, menurut keterangan staf medis di Rumah Sakit Al-Shifa.
Gempuran tersebut menghantam Gedung Al-Asala di kawasan Remal pada Sabtu dini hari tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sebagaimana dilaporkan oleh jurnalis Al Jazeera, Hani al-Shaer, dari Khan Younis.
Remal merupakan salah satu kawasan pemukiman paling padat di Kota Gaza, yang kini menjadi tempat bernaung bagi ribuan warga terdislokasi di kamp-kamp darurat di seluruh wilayah tersebut.
Al-Shaer melaporkan bahwa serangan mematikan itu terjadi di tengah malam ketika para penghuni sedang tertidur lelap.
“Kami mendengar suara jet tempur semakin keras, disusul tiga ledakan beruntun yang menghantam apartemen tersebut dan menewaskan orang-orang di dalamnya,” tuturnya.
Hantaman roket menembus apartemen sasaran dan merusak lantai-lantai di bawahnya, memicu kerusakan parah di seluruh struktur bangunan bertingkat tersebut.
‘Malam yang Mencekam’
Melaporkan langsung dari Kota Gaza pada Sabtu siang, jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “malam mencekam lainnya”.
“Sekitar pukul 02.00 dini hari [Sabtu, 11:00 GMT Jumat], dua ledakan dahsyat mengguncang Bundaran Al-Haid. Kami belakangan mengetahui bahwa tentara Israel mengincar sebuah bangunan dengan dua drone peledak, yang menewaskan sedikitnya tiga wanita, seorang anak-anak, dan seorang pemuda.”
Kobar api membumbung selama sedikitnya satu jam sebelum tim Pertahanan Sipil Palestina berhasil memadamkannya. Al-Shaer menggambarkan pemandangan di lokasi sebagai kondisi yang “mengerikan”, sementara Khoudary menyebut “seluruh lingkungan terguncang” ketika warga tertimbun reruntuhan saat sedang tidur.
Petugas pertahanan sipil masih terus menyisir lokasi untuk mencari korban hilang dan mengevakuasi jenazah, kata al-Shaer, sementara drone Israel terus melayang di atas area tersebut dan jet tempur terdengar terbang rendah di seantero Gaza.
“Ini bukanlah pelanggaran gencatan senjata pertama, atau serangan pertama dalam 24 jam terakhir,” catat Khoudary. Sebelumnya, serangan drone Israel juga menewaskan seorang pria Palestina dan melukai beberapa orang lainnya di Gaza selatan pada Kamis.
“Menurut dokter, sangat sulit untuk menyelamatkan nyawa korban luka karena Israel terus membatasi masuknya pasokan dan peralatan medis,” ujar Khoudary. “Banyak warga kini mengantre untuk keluar dari Jalur Gaza melalui Penyeberangan Rafah.”
Berbatasan dengan Mesir di selatan Gaza, Pintu Penyeberangan Rafah hanya dibuka secara terbatas oleh pasukan Israel untuk pergerakan orang, terutama pasien kritis yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri, ungkap Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).






