PARENTING

Membicarakan Kematian

Seorang ibu menangis tersedu-sedu di samping jenazah anaknya. Air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya. Sang ayah di sampingnya memeluk sang ibu, tak terdengar isak tangis, namun dadanya bergetar menahan pilunya hati. Anak lelaki dari ibu tadi telah berpulang ke Rahmatullah setelah mengidap sakit yang cukup lama.

Aku pun membayangkan jika itu terjadi kepada diriku. Usia anak lelakinya hampir sama dengan usia anak pertamaku. Bagaimana bila anakku lebih dulu meninggalkan aku? Ah rasanya tak sanggup aku membayangkan. Kami sebagai orang tua memiliki segudang rencana untuk masa depan anak-anak kami kelak, yang rasanya sulit dibayangkan jika itu direnggut dariku.

Begitulah manusia, padahal sejatinya aku mengerti bahwa manusia hanya sanggup berencana saja, namun kadang kekecewaan tetap menyelimuti hati saat semua rencana tidak berjalan sesuai dengan yang kita kehendaki. Manusia sering lupa, yang menentukan segalanya tentulah Allah Sang Pembuat Skenario kehidupan yang tak mungkin salah. Rencana Allah pastilah yang terbaik. Jika anak, suami atau orang terkasih kita, Allah panggil pulang, berarti itulah saat yang terbaik, baginya, bagi keluarganya dan bagi orang yang di sekitarnya.

Kadang rencana Allah tidak semanis rencana kita, jika dilihat dari sudut pandang manusia. Kadang terasa pahit, kadang rasa tak adil, kadang rasa pilu, namun sebagai umat yang baik haruslah kita berprasangka baik kepada Sang Khaliq, seperti diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta’alla berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba pada-Ku” (HR. Bukhari)

Dari sinilah kematian menjadi tema bahan obrolan kami di rumah. Terutama kepada sang suami. Banyak hal yang aku pesankan kepadanya. “Bukan Bu, bukan enggak boleh nikah lagi kok. Pesannya pasti carilah istri yang salihah, yang bisa menyayangi anak-anak juga. Kenapa enggak ngomong “Pokoknya Yah, kalau aku mati, kamu enggak boleh yah nikah lagi!!!!!!!!” (Pake tanda serunya yang banyak biar pedes…Eh biar tegas)

Mesti dipahami ketika kematian memisahkan, yang mati akan sibuk dengan urusannya di alam kubur. Sedangkan yang hidup pasti berusaha melanjutkan kehidupannya. Jikalau memang Allah mengizinkan dan berkehendak pasangan kita nantinya menikah lagi, maka kita pun enggak akan bisa bangkit dari kubur terus protes, ya kaaaaann (kayak film horor dong). Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Allah, lagi pula menikah adalah ibadah, menjalani biduk rumah tangga yang sakinah akan mendatangkan pahala.

Begitu pun kepada anak-anak, saya sering bilang bahwa kita enggak tahu siapa yang lebih dulu mati. Apakah bunda, ayah atau kalian anak-anak. Ajal itu sesuatu yang pasti datang dan hanya Allah yang tahu kapan ajal itu tiba. Agar mereka paham betul bahwa kematian bukanlah perpisahan yang sesungguhnya, nanti atas izin Allah kita akan berkumpul lagi. “Sampai saatnya nanti kalian enggak boleh nangis berlebihan,” biasanya sering aku ingatkan begitu.

Kapan bisa membicarakan kematian dengan anak, saya sendiri memulai pembicaraan ini ketika si abang berusia 12 tahun dan adeknya berusia 7 tahun lebih. Dengan harapan mereka mengerti bahwa setiap insan itu pasti mati. Kelak jika mereka tumbuh dewasa mereka benar-benar memaknai kehidupan di dunia ini dan tidak menyia-nyiakan waktu yang telah Allah beri.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button