Gencatan Senjata AS-Iran Berada di Ambang Kehancuran?
Gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan antara Iran dan Amerika Serikat tampak berada dalam bahaya baru pada Selasa, setelah rentetan rudal Iran dilaporkan menargetkan Uni Emirat Arab, sementara angkatan laut AS terus berupaya membuka kembali Selat Hormuz.
Serangan Iran ke UEA tersebut merupakan yang kedua dalam 48 jam, dan terjadi tak lama setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa gencatan senjata yang rapuh—yang menghentikan sementara perang di Timur Tengah—masih berlaku, meskipun terjadi peningkatan kekerasan.
Pada Senin, militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal kecil Iran, serta rudal jelajah dan drone, setelah Donald Trump mengirim kapal perang untuk “mengawal” tanker yang terdampar melalui selat tersebut dalam operasi yang ia sebut “Project Freedom“.
Hegseth mengatakan dalam konferensi pers pada Selasa bahwa operasi untuk mendorong kapal komersial melintasi selat bersifat sementara dan gencatan senjata belum berakhir.
“Kami tidak mencari konflik… Untuk saat ini gencatan senjata masih bertahan, tetapi kami akan mengawasinya dengan sangat ketat,” katanya.
Tidak ada tanggapan langsung dari Iran, meskipun sebelumnya pada Selasa, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan pernyataan tegas yang menuduh AS melanggar gencatan senjata.
“Kami sangat memahami bahwa kelanjutan situasi saat ini tidak dapat ditanggung oleh Amerika Serikat, sementara kami bahkan belum benar-benar memulai,” kata Ghalibaf dalam unggahan media sosial.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa 10 pelaut sipil telah tewas akibat konflik yang sedang berlangsung di Selat Hormuz, tanpa memberikan rincian tambahan.
Kapal-kapal dan awaknya “disandera”, katanya dalam pengarahan di Gedung Putih.
“Mereka terisolasi, kelaparan, dan rentan,” tambahnya.
Selat Hormuz biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia, tetapi hampir sepenuhnya ditutup sejak AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu gangguan ekonomi besar di seluruh dunia.
Lebih dari 800 kapal dan sekitar 20.000 awak masih terdampar di barat jalur sempit tersebut.
Iran telah mengancam akan menggunakan ranjau, drone, rudal, dan kapal serang cepat, sehingga pelayaran komersial melalui selat menjadi terlalu berisiko.
AS merespons dengan memblokade pelabuhan Iran.






