SEHAT-BUGAR

Awas! Konsumsi Gula Berlebih pada Balita Picu Gangguan Kecemasan Saat Dewasa

Jakarta (Suaraislam.id) — Penelitian terbaru dari University of Surrey mengungkapkan bahwa paparan tinggi konsumsi gula pada masa awal kehidupan anak berisiko memicu gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan berlebih saat mereka menginjak usia dewasa.

“Kami tertarik untuk memahami apakah konsumsi gula pada usia dini berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental di masa depan, khususnya depresi dan kecemasan,” kata penulis utama studi, Dr. Hana Navratilova, sebagaimana dikutip dari laporan New York Post, Ahad (27/9/2026).

Melalui analisis data medis terhadap lebih dari 45.000 peserta di UK Biobank, para peneliti menemukan bahwa paparan gula pada 1.000 hari pertama kehidupan berbanding lurus dengan peningkatan risiko kecemasan saat dewasa. Konsumsi gula berlebih pada fase tumbuh kembang tersebut terbukti berdampak signifikan pada perkembangan 11 dari 80 wilayah otak yang diteliti.

Subjek penelitian dikelompokkan berdasarkan pembatasan asupan gula sejak dalam kandungan hingga usia 6, 12, 18, dan 24 bulan, serta kelompok yang hanya dibatasi konsumsi gulanya selama berada di dalam kandungan.

Hasil studi menunjukkan bahwa risiko kecemasan paling rendah ditemukan pada kelompok yang steril dari paparan gula tinggi sejak janin hingga berusia dua tahun. Sebaliknya, anak perempuan yang mengonsumsi gula tanpa pembatasan pada masa balita terbukti lebih rentan mengalami gangguan kecemasan saat dewasa.

Selain memengaruhi kesehatan mental, asupan gula usia dini turut membentuk pola makan jangka panjang. Anak-anak yang terbiasa bebas gula hingga usia 24 bulan terbukti memiliki kecenderungan lebih rendah terhadap kegemaran mengonsumsi makanan manis saat dewasa.

“Meskipun konsumsi gula kembali meningkat setelah masa pembatasan berakhir, lingkungan nutrisi awal kehidupan tetap memberikan pengaruh jangka panjang pada kesehatan mental,” jelas peneliti senior, Prof. Nophar Geifman.

Data studi ini memanfaatkan latar belakang unik para peserta yang lahir antara tahun 1951 dan 1956, masa ketika Inggris menerapkan rasionalisasi atau pembatasan konsumsi gula pascaperang sebelum dihentikan secara bertahap.

Sejumlah lembaga kesehatan dunia, termasuk Departemen Pertanian AS (USDA) dan Departemen Kesehatan AS (HHS), merekomendasikan agar konsumsi gula harian anak-anak berada di bawah 25 gram per hari.

Namun, realitas menunjukkan mayoritas anak-anak mengonsumsi gula hingga 68–81 gram per hari melalui produk olahan ultra-proses seperti biskuit, es krim, dan minuman berpemanis. Peneliti menggarisbawahi bahwa pemanis buatan dan minuman manis olahan menjadi penyumbang terbesar timbulnya gangguan kesehatan mental di kemudian hari. []

Sumber: Antaranews.com

Back to top button