SUARA PEMBACA

Ade Armando Dikorbankan?

Sejak kemarin hingga hari ini berita Ade Armando buzzer (dengan tugas spesial membuat pernyataan kontroversial memecah belah bangsa dan menyakiti ummat Islam) babak belur dan ditelanjangi peserta demo 114 akan mewarnai media dan grup-grup wa para netizen.

Setelah dirawat di rumah sakit konon Ade Armando (AA) katakan “saya tidak takut dan akan semakin gila”. Kita tunggu “kegilaannya”.

Apakah Settingan?

AA datang ke arena aksi di depan gedung DPR/MPR RI bersama kawan-kawannya dan menyatakan di hadapan media TV dan media lainnya bahwa dirinya mendukung tuntutan mahasiswa menolak perpanjangan jabatan presiden/penundaan pemilu dan juga menolak tiga periode masa jabatan presiden.

Mungkin AA pikir dengan pro kepada tuntutan mahasiswa dan masyarakat tersebut akan mendapat sambutan hangat para peserta unjuk rasa (unras), namun kehadirannya mengundang nasib buruk pada dirinya.

Mengapa AA sampai berani hadir di arena aksi? mungkin dia merasa akan mendapat pengamanan dan perlindungan yang selama ini melindunginya walaupun sudah banyak laporan masyarakat ke polri atas dugaan aneka penistaan agama dan ujaran kebencian namun dengan berbagai alasan pihak Polri tidak menindak lanjuti laporan masyarakat tersebut.

Dari foto dan video yang beredar pada saat kejadian pengeroyokan pihak kepolisian tidak berada di tempat tersebut dan polisi barulah datang sekitar 20 menit setelah kejadian, itupun setelah diamankan dan dilindungi peserta unras.

Spekulasi Sikap terhadap AA

Sudah cukup lama sikap AA dalam beberapa hal berseberangan dengan kebijakan-kebijakan Jokowi dan tentunya hal ini menyakiti “pecinta Jokowi” lainnya maka dugaan dan spekulasi operasi untuk menyelesaikan AA menemui momennya pada aksi 114 tersebut.

AA dianggap sudah tak berguna makanya tidak lagi dilindungi dan nasibnya hampir mirip dengan Ferdinand Hutahaean yang tidak mendapat pembelaan dan perlindungan dan dihukum 7 bulan atas kesalahannya melakukan penistaan agama.

Komentar Netizen

Sebagian masyarakat yang jengkel dan kesal atas kelakuan AA tersebut merasa gembira dan berharap para buzzer lainnya seperti Deny Siregar, Abu Janda dan lainnya akan menemui nasib yang sama seperti AA namun sebagian lagi masyarakat prihatin terhadap kekerasan yang menimpa AA, untuk itulah pihak berwenang mesti bersikap adil dan menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat minimal seperti yang dikenakan pada Ferdinand Hutahaean.

Keterangan Kapolda

Kapolda Metro Jaya Fadli Imran mengatakan bahwa para pelaku tindak kekerasan pada AA bukanlah mahasiswa, lalu siapakah pelakunya?

Kita tunggu hasil penyelidikan kepolisian untuk mengungkap dugaan spekulasi operasi intelijen kasus AA tersebut.

Abdul Malik

Artikel Terkait

Back to top button