#Kenormalan BaruSURAT PEMBACA

Back to School: Mau Mencerdaskan atau Memusnahkan Generasi?

Pandemi masih terus berlangsung. Kurvanya masih menunjukkan tren meningkat menuju puncak. Artinya, belum mencapai puncak dan belum menemukan titik balik maksimum sehingga bisa bergerak turun. Namun di tesngah peningkatan kasus Covid-19, pemerintah telah banyak melakukan manuver yang menyesakkan dada rakyat.

Satu diantaranya adalah keputasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tentang permulaan tahun ajaran baru 2020/2021 pada bulan Juli 2020 (kompas.com, 20/05/2020). Meskipun Mas Menteri belum ada rencana mengembalikan anak-anak ke sekolah karena masih menunggu keputusan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Kebijakan Kemendikbud untuk memulai tahun ajaran baru di bulan Juli, menjadi kekhawatiran bagi banyak pihak. Diumumkannya awal ajaran baru merupakan instruksi serta legitimasi untuk mengadakan proses pembelajaran di sekolah. Entah nanti dilaksanakan secara daring atau luring.

Belajar dari sistem daring yang dilaksanakan sejak pertengahan Maret hingga akhir Mei tadi. Banyak keluhan dari guru, orang tua dan juga siswa. Mulai dari kendala penyediaan perangkat IT, kemampuan orang tua mendampingi belajar, hingga kemampuan guru menggunakan IT dan memilih metode pembelajaran jarak jauh serta ketidakcocokkan kurikulum dengan kondisi pandemi. Teringat dengan keterkejutan Mas Menteri mengetahui masih ada daerah yang tidak dialiri listrik. Bagaimana bisa sistem daring?

Kekhawatiran yang terbesar adalah jika anak-anak kembali ke sekolah Juli ini. Padahal kasus Covid terus meningkat. KPAI meminta agar Kemendikbud berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan para ahli epidemiolog sebelum memutuskan membuka kembali sekolah.

Ketua KPAI menyebutkan data Kementerian Kesehatan, terdapat 831 anak terinfeksi Covid-19 dengan usia 0-14 tahun (okezone.com, 27/05/2020). Dikhawatirkan, pembukaan sekolah akan menjadi klaster baru, yaitu klaster sekolah. Semestinya pemerintah belajar pada Prancis dan Finlandia. Prancis mencatat ada 70 kasus baru covid-19 setelah sekolah dibuka kembali (sindonews.com, 20/05/2020).

Pemerintah sudah mengambil keputusan untuk menempuh hidup normal baru, hidup berdampingan dengan virus. Sejumlah protokol kesehatan wajib dijalankan di fase “new normal life”. Sudah ada sejumlah daerah yang disiapkan untuk “new normal”. Segera masing-masing daerah membuat jadwal fase normal baru, mulai dari pembukaan pasar, tempat wisata hingga sekolah, di bulan Juni ini.

Dengan new normal, rakyat dibiarkan sendirian melawan corona sekaligus mencari penghidupan. Padahal dengan PSBB, hidup rakyat bagai buah simalakama. Tak bekerja maka tak punya penghasilan. Bekerja, dihadang razia Satpol PP, sementara tak ada jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dari negara.

Kini, sekolah mau dibuka. Mampukah sekolah menjaga jarak aman antar siswa. Menyediakan sarana cuci tangan. Memastikan anak-anak menggunakan masker sepanjang waktu sekolah. Membuat sekat antarmeja per siswa. Menutup kantin dan memastikan anak-anak membawa bekal sendiri, untuk mengurangi kerumunan. Menyesuaikan kurikulum dan jadwal agar anak tidak terlalu lama di sekolah dan tidak terlalu lelah yang dapat mengurangi imun tubuhnya. Mampukah?

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button