SIRAH NABAWIYAH

Beginilah Tahapan Revolusi Peradaban yang Dipimpin Rasulullah

Kedua, Memperkenalkan spirit militer khas Islam: pertahanan terbaik adalah dengan aktif menyerang, serta memegang inisiatif. Bukan pasif layaknya sebagian umat Islam di zaman now. Rasulullah dan para shahabat telah mengalami 77 kali peperangan, dengan sembilan di antaranya perang besar, hanya perang Uhud dan Khandaq saja pasukan Islam bertahan. selebihnya? Menyerang dan memegang Inisiatif.

Ketiga, Mengksplorasi kawasan sekitar Madinah, baik dari segi jalur-jalur perhubungannya maupun menguasai sumber-sumber mata air. Penguasaan jalur perhubungan, dan sumber mata air, sangat mutlak diperlukan bukan saja dalam peperangan kuno melainkan juga dalam peperangan modern.  

Keempat, mencari ghanimah yang akan memperkuat militer pasukan Islam dan persediaan logistiknya. Perlu diingat, meskipun musuh bisa dari berbagai pihak, di masa-masa awal Rasulullah dan para shahabat hanya mengincar ghanimah dari kafir Quraisy. Sedangkan dengan suku-suku sekitar Madinah beliau membuat perjanjian politik yang saling menguntungkan. Di sinilah kekuatan diplomasi, komunikasi dan interaksi umat Islam diuji. Tanpa kemampuan berpolitik, umat Islam akan kesulitan menegakkan kalimatullah kendati sangat berani dalam bidang militer.

Untunglah, umat Islam saat itu sudah selesai dalam urusan keindahan akhlaq dan adab.

Kelima, mempererat hubungan Muhajirin dan Anshar dalam program-program ekspedisi. Pada awalnya, selain Mushab bin Umair sang muqri Madinah, dan shahabat dari kalangan pembesar Muhajirin, kaum Anshar dipastikan tidak kenal dengan mayoritas shahabat Muhajirin. Maka tak kenal maka tak sayang. Kerja sama harmonis yang maksimal Muhajirin-Anshar, dimulai dari program ekspedisi-ekspedisi ini. Menurut istilah Syaikh Ratib ‘Armush, “Dalam rangka membangun sebuah komunitas yang saling terikat dan membantu.”

Keenam, membuat jalur perdagangan kafir Quraisy senantiasa tidak aman. Memberikan teror psikis kepada musuh utama agar selalu dalam keadaan terancam. Kafilah dagang Quraisy setelah Nabi berhijrah tidak lagi bisa dengan langgeng menggelembungkan pundi-pundi harta lewat bisnisnya. Penguasaan secara de facto jalur dagang musuh merupakan tujuan utama dari ekspedisi-ekspedisi sebelum perang Badar, juga dalam rangka mengamalkan QS Al-Anfal ayat 60: menggentarkan musuh-musuh Allah.

Ketujuh, semua dilakukan step by step. Sejatinya yang dilakukan baginda Nabi selaku pimpinan adalah menetapkan ‘izzah Islam dan kaum Muslimin di mata suku-suku yang berdekatan dengan Madinah. Demikian eksplorasi terhadap bacaan Syaikh Ratib ‘Armush dalam kitab The Great Leader. Rasulullah bijaksana menyadari bahwa kekuatan bersenjata dan harta umat belum cukup untuk melakukan jihad offensive dalam konteks futuhat.

Ciri pendidikan revolusi dari Rasulullah ialah, program beliau tiap langkahnya menuju kejayaan yang terarah pasti. Dengan waktu sesingkat mungkin. Semua lini, dari perihal militer, persenjataan, politik, ekonomi sampai urusan logistik, semua tergarap dengan baik. Maka tidak sampai dua tahun ‘bayi’ peradaban Islam Madinah, bisa menang telak menghadapi kekuatan penuh jawara Arab: Quraisy. Perang Badar buktinya.

Itulah program dan pelaksanaan yang dipimpin Rasulullah dalam rangka merubah peradaban dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang. Membuat program sedikit namun bermanfaat di semua lini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Wallahua’lam

Al-Katib Al-Qolami as-Sundawi
Pegiat Sirah Nabawiyah

Laman sebelumnya 1 2
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close