SEHAT-BUGAR

Calon Jamaah Haji Wajib Waspadai Pneumonia Pneumokokus

Waspada Pneumonia Pneumokokus

Masyarakat perlu memahami secara mendalam apa itu penyakit pneumonia pneumokokus dan tingkat risikonya. Pneumonia pneumokokus sendiri merupakan infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri bernama Streptococcus pneumoniae.

Hasil survei memperlihatkan betapa mudahnya penyakit ini disalahartikan oleh masyarakat dengan penyakit ringan lainnya. Sebanyak satu dari lima responden (20%) setuju bahwa pneumonia pada dasarnya sama dengan flu, dan hampir separuh (48%) menjawab netral.

Mengenai kekeliruan persepsi ini, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD kembali memberikan penjelasan medisnya. Ia memaparkan perbedaan mendasar antara penyakit flu biasa dengan pneumonia.

“Pneumonia dan flu bukan penyakit yang sama, meskipun flu dapat berkembang menjadi pneumonia. Keduanya bisa menimbulkan batuk dan demam, sehingga keluarga sebaiknya tidak menyimpulkan penyebabnya berdasarkan gejalanya saja. Sesak napas atau nyeri dada perlu segera diperiksakan ke dokter.”

“Kesulitan bernapas yang parah atau kebingungan yang muncul tiba-tiba memerlukan penanganan gawat darurat” ujar dokter Joyce.

Masyarakat Indonesia juga pada umumnya hanya mengaitkan risiko pneumonia dengan organ paru-paru semata. Sebanyak 42% responden menyebut orang dengan penyakit paru-paru sebagai kelompok berisiko tinggi, sementara hanya 11% menyebut penderita penyakit jantung dan 9% menyebut penyandang diabetes.

Padahal, faktor usia dan keberadaan penyakit penyerta (komorbid) sangat memengaruhi tingkat keparahan infeksi ini. Kondisi fisik lansia memerlukan perhatian ekstra dari lingkungan keluarganya.

“Seiring bertambahnya usia, tubuh semakin sulit melawan infeksi. Penyakit kronis seperti diabetes serta penyakit jantung atau paru kronis dapat semakin meningkatkan risiko penyakit pneumokokus. Orang tua bisa saja tetap aktif dan mandiri, namun membawa risiko yang lebih tinggi daripada yang disadari keluarganya.”

“Dengan memahami risiko tersebut memberi keluarga alasan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum sakit terjadi, bukan setelahnya” ujar dokter Joyce.

Apa yang Harus Dilakukan Bagi Calon Haji

Menghadapi potensi risiko kesehatan tersebut, terdapat langkah-langkah konkret yang wajib dilakukan oleh para calon jamaah. Temuan survei menunjukkan bahwa 77% orang Indonesia menyatakan kemungkinan besar akan berbicara dengan dokter tentang perlindungan penyakit pernapasan serius, namun baru 24% yang benar-benar pernah melakukannya.

Dokter Meidi Nursasih menjelaskan kemudahan dalam memulai komunikasi dan konsultasi kesehatan dengan dokter keluarga. Jamaah tidak perlu merasa ragu atau terbebani dengan istilah medis.

“Anda tidak perlu memahami istilah medis sebelumnya. Mulai saja dari sampaikan usia, riwayat kesehatan Anda dan apa pun yang jadi khawatirkan Anda, dari situ, dokter Anda dapat memberikan saran yang sesuai untuk Anda. Kami dapat menjelaskan seperti apa risiko pribadi Anda, pilihan pengobatan yang tersedia, serta menjawab pertanyaan seputar keamanan, biaya, dan ke mana harus pergi untuk mendapatkan layanan tersebut.”

“Dengan jawaban yang jelas orang-orang dapat mengambil keputusan yang mereka pahami dan rasa Merisas nyaman dengan keputusannya” ujar dokter Meidi.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button