#Bebaskan PalestinaRESONANSI

Di Gaza, Kami Bahkan Tak Bisa Mulai Pulih dari Trauma

Namun, kematian di Gaza sama sekali tidak seperti gambaran itu. Kematian di sini memiliki bau khas: perpaduan bubuk mesiu, puing-puing yang terbakar, dan aroma pembusukan. Kematian memiliki suara: desingan rudal dan jeritan tertahan dari balik reruntuhan. Kematian membawa sensasi fisik berupa ketakutan yang murni.

Tidak ada satupun prosa perang yang pernah saya baca mampu menyiapkan diri saya untuk menyaksikan apa yang telah saya lihat dan alami secara langsung.

Dalam dua bulan pertama perang, enam rumah di lingkungan tempat tinggal saya hancur dibom, dan 60 tetangga saya gugur. Satu bom jatuh begitu dekat hingga merubuhkan dinding dan jendela rumah kami, melukai adik perempuan saya, ibu saya, dan saya sendiri.

Pengeboman terjadi tanpa henti — siang dan malam. Pada siang hari, asap tebal memenuhi udara dan menutupi birunya langit. Pada malam hari, kegelapan dan debu hanya sanggup ditembus oleh kilatan lampu ponsel, saat kami berpacu dengan waktu menggali puing untuk menyelamatkan tetangga kami.

Saya menyaksikan sendiri jasad seorang anak tersangkut di dinding yang hancur tepat di sebelah potongan tangan seorang pria.

Saya mengangkat jasad seorang bayi dari balik reruntuhan bangunan.

Saya melihat seorang ibu keluar dari balik rumah yang runtuh dengan darah mengalir di pipinya, sementara wajah-wajah yang tertutup debu berteriak histeris dan tetangga yang dicekam ketakutan mengais tembok beton yang hancur demi mencari keluarga mereka.

Dan pada suatu hari yang amat mengerikan, saya menemukan murid saya yang berusia delapan tahun, Mohammed, terbaring telungkup di antara puing-puing. Saya membalikkan tubuhnya untuk memeriksa denyut nadi. Tidak ada denyut, tidak ada napas. Ia biasanya datang ke rumah saya untuk belajar bahasa Inggris bersama adaknya. Pengeboman itu merenggut nyawanya yang tak berdosa, namun menyisakan adiknya. Saya berhasil menarik adiknya keluar dalam keadaan hidup.

Karya-karya sastra klasik terasa terlalu lembut. Gaza tidak demikian.

Trauma tersimpan dalam tubuh saya bagaikan serpihan shrapnel. Dada saya terasa sesak setiap kali sebuah drone melintas di atas kepala. Tangan saya gemetar setiap kali mendengar letupan senjata di dekat saya.

Jiwa saya terasa hampa. Saya tidak sanggup berkonsentrasi, dan saya hampir tidak pernah tersenyum lagi.

“Dunia menghancurkan setiap orang, dan setelahnya banyak yang menjadi kuat di tempat yang patah itu. Namun bagi mereka yang tidak bisa patah, dunia akan membunuhnya. Dunia membunuh mereka yang sangat baik, sangat lembut, dan sangat berani tanpa terkecuali,” tulis Hemingway.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button