Di Gaza, Kami Bahkan Tak Bisa Mulai Pulih dari Trauma
Memang benar, bukan sekadar trauma yang telah menguasai kami, manusia-manusia yang telah patah ini. Ada pula rasa bersalah sebagai penyintas (survivor’s guilt). Orang-orang terbaik dan paling mulia telah dijemput terlebih dahulu meninggalkan kami. Saya telah kehilangan kerabat, sahabat, dan murid-murid: mereka yang paling cerdas, paling dermawan, dan paling berhati lembut.
Saya tidak lagi membaca untuk belajar atau memperkaya diri. Saya membaca untuk melupakan. Saya membaca hingga pandangan saya kabur dan kantuk menguasai, demi menghalau bayangan kematian dari kepala saya.
Karya fiksi tidak lagi mampu menyentuh atau mengejutkan saya. Saya telah menyaksikan kemanusiaan mati sementara dunia hanya menonton dengan dingin tanpa kepedulian. Lantas, fiksi mana lagi yang lebih tidak masuk akal daripada kenyataan ini?[]






