Diserang Netanyahu di PBB, Al Jazeera Tegaskan Komitmen Ungkap Kejahatan Israel di Gaza
Jakarta (Suaraislam.id) — Al Jazeera menolak serangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap jaringannya dalam pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Jumat, Al Jazeera Media Network menyatakan pihaknya “secara tegas menolak” pernyataan Netanyahu. Menurut jaringan tersebut, klaim Netanyahu merupakan contoh terbaru dari “kampanye berkelanjutan Israel terhadap Al Jazeera dan para jurnalisnya”.
Saat berpidato di Sidang Umum PBB pada Kamis, Netanyahu menyerang para pengkritik Israel terkait perang di Gaza dan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Ia juga secara khusus menyebut nama Al Jazeera.
Netanyahu menyebut Al Jazeera sebagai salah satu “media beracun” di dunia yang bertujuan “mencuci otak kaum muda agar membenci Israel”.
Al Jazeera menyatakan bahwa pernyataan Netanyahu menunjukkan keinginan untuk menghentikan jaringannya dari “melaporkan fakta-fakta di lapangan, mendokumentasikan berbagai peristiwa, memberikan konteks, serta memastikan berbagai suara dan perspektif dapat didengar”.
Menanggapi serangan verbal tersebut, Al Jazeera menegaskan bahwa retorika dari podium PBB merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Ancaman semacam ini berpotensi langsung membahayakan keselamatan para jurnalis Al Jazeera yang bekerja di lapangan.
“Retorika ini tidak dapat dipisahkan dari besarnya pengorbanan yang telah ditanggung para jurnalis Al Jazeera di Gaza,” tambah pernyataan tersebut.
Jurnalis Al Jazeera Menjadi Korban
Lebih dari 270 jurnalis terbunuh di Gaza selama serangan Israel, menurut data Al Jazeera. Sedikitnya 12 di antaranya merupakan jurnalis yang bekerja langsung untuk media tersebut.
Al Jazeera menegaskan bahwa jaringannya telah kehilangan sejumlah jurnalis dan operator kamera saat menjalankan tugas. Sebagian dari mereka bahkan menjadi sasaran kampanye hasutan dan pencemaran nama baik sebelum akhirnya menjadi target serangan.
Dari lebih dari 73.000 korban tewas di Gaza, sedikitnya 706 orang merupakan anggota keluarga jurnalis Palestina, menurut data Serikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate).
Israel berulang kali mengambil tindakan keras terhadap Al Jazeera dan menjalankan berbagai kampanye tekanan terhadap Qatar.
Dua tahun lalu, kabinet Israel memutuskan untuk menutup operasional Al Jazeera di negara tersebut. Pemerintah kemudian memerintahkan penutupan kantor-kantornya dan melarang siaran jaringan tersebut.
Langkah represif itu dilakukan setelah parlemen Israel, Knesset, mengesahkan undang-undang yang memungkinkan pemerintah menutup sementara media asing yang dianggap sebagai “ancaman terhadap keamanan”.
“Langkah-langkah ini tidak hanya menargetkan Al Jazeera, tetapi juga merusak hak setiap orang untuk memperoleh informasi yang benar dan liputan jurnalistik yang independen,” tegas Al Jazeera dalam pernyataannya, Jumat (25/9).
Jaringan berita tersebut menambahkan bahwa peran utama jurnalisme adalah memberikan fakta dan konteks kepada dunia, sekaligus menghormati hak masyarakat untuk menilai sumber informasi secara mandiri.[]
Sumber: Al Jazeera





