SURAT PEMBACA

Duka di Momen Idul Adha, Teguran Allah SWT

Hari raya Idul Adha adalah salah satu hari raya besar umat Islam. Hari raya Idul Adha atau biasa disebut dengan hari Kurban karena identik dengan penyembelihan hewan kurban dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah.

Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada Hari Selasa, 21/8/2018. Sedangkan Pemerintah Indonesia melalui Kemenag telah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijjah tahun ini jatuh pada Hari Rabu, 22/8/2018. Sudah pasti ada perbedaan waktu yang berbeda kaum Muslim di Indonesia dalam merayakan hari raya idul Adha tahun ini. Akan tetapi ada pula yang mengacu kepada ketetapan Pemerintah Arab Saudi, mereka beralasan, Idul Adha berkaitan erat dengan ritual ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah (Hari Arafah), yang jatuh pada Senin, 20/8/2018.

Perbedaan penentuan hari raya ini telah menjadi kontroversi di tengah – tengah masyarakat saat ini, apalagi dengan melihat selisih waktu hanya 4 jam perbedaannya antara Arab dan Indonesia.

Diluar kontroversi perbedaan itu, saat ini kaum muslimin di Indonesia sedang mendapatkan beragam macam ujian. Selain meningkatnya kemiskinan, kriminalitas, melonjaknya harga bahan – bahan pokok, utang negara yang terus meningkat dan sebagainya. Saat ini umat muslim Indonesia telah diuji dengan bencana alam yaitu terjadinya rentetan gempa bumi di Lombok, NTB yang telah menghancurkan rumah dan fasilitas umum hingga menelan korban jiwa. Seakan memberikan sebuah isyarat kepada manusia anak gunung Krakatau pun sudah ratusan kali mengeluarkan letusan kecil yang menyebabkan munculnya lava baru. Musibah yang terjadi menjelang hari raya Idul Adha tak hanya terjadi di negeri ini saja, pada musim haji ini di Mina dilanda angin dan badai besar, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi para jamaah haji khususnya jemaah haji dari Indonesia.

Sebagai orang beriman, sudah sepatutnya mengambil pelajaran berharga dari kejadian-kejadian ini.

Di zaman Khalifah Umar bin Khaththab, pernah terjadi bencana berupa gempa yang menimpa salah satu daerah yang dipimpinnya.

Khalifah Umar pun mengunjungi daerah yang tertimpa gempa tersebut. Tetapi yang sangat berbeda dengan para pemimpin sekarang adalah perkataan yang dilontarkan oleh beliau.

Khalifah Umar berkata, “Wahai rakyatku, dosa besar apakah yang kalian lakukan sehingga Allah menimpakan azab seperti ini?!”

Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa perkataan seperti itu sangatlah kasar dan kurang berkenan, apalagi kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Tetapi, Khalifah Umar berkata demikian bukanlah tanpa sebab. Umar bin Khaththab lebih mengajak rakyatnya agar mengintrospeksi diri, dan inilah yang seharusnya kita lakukan.

Musibah harus kita pahami sebagai bentuk teguran Allah kepada Hamba-hamba-Nya, agar mereka sadar dan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. Musibah terjadi lantaran ulah manusia itu sendiri.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS Asy-Syuura: 30).

Allah SWT menegur kita hambaNya sebagai tanda kasih sayangNya. Betapa sombongnya manusia karena telah mencampakkan syari’atNya. Oleh karena itu agar negeri ini selamat dari azab Allah ikuti perintahNya jauhi laranganNya dengan menerapkan Islam kaffah.

Wallahu a’lam bishowab

Ummu Faza El Kenzo

Artikel Terkait

Back to top button