Hadapi Bahaya LGBTQ+, Dekan FAI UIKA Bogor Serukan Penjagaan Fitrah Generasi
Bogor (Suaraislam.id) – Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Imas Kania Rahman, menyerukan pentingnya memperkuat benteng moral dan menjaga fitrah generasi muda Indonesia di tengah masifnya propaganda LGBTQIAAP atau LGBTQ+. Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan individual, tetapi perlu dicermati dalam konteks pengaruh sosial, budaya, hiburan, dan hukum internasional.
Imas mengingatkan bahwa anak-anak Indonesia, baik anak biologis maupun anak ideologis, menghadapi berbagai pengaruh negatif secara sistematis. Ia menyoroti perubahan cara gerakan LGBTQIAAP menyebarkan propaganda yang memperoleh dukungan pendanaan besar, industri hiburan, hingga hukum internasional.
“Dulu perilaku amoral dilakukan sembunyi-sembunyi. Sekarang gerakan ini ditopang oleh dana miliaran dolar,” ujar Imas dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, persoalan mendasar yang perlu dicermati adalah pengaruh terhadap cara pandang generasi muda mengenai konsep keluarga serta pemaknaan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia menilai, ketika batas-batas tersebut dipersoalkan atas nama kebebasan, dampaknya berpotensi meluas ke ranah moral, struktur sosial, psikologis, hingga masa depan bangsa.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap abai. Imas menilai, berbagai pengaruh yang mengancam ketahanan moral generasi muda perlu dihadapi dengan kesadaran, keteraturan, dan langkah bersama.
“Musuh-musuh peradaban, mereka sangat terstruktur. Oleh karena itu, umat Islam harus lebih terstruktur,” tegasnya.
Imas juga mengaitkan persoalan tersebut dengan perjalanan sejarah peradaban dunia. Menurutnya, keruntuhan sebuah peradaban tidak selalu disebabkan oleh serangan militer dari luar, tetapi dapat berawal dari persoalan internal, termasuk kemerosotan moral.
Pembina Gerakan Menjaga Fitrah (GMF) itu mencontohkan peradaban Islam yang pernah memimpin dunia selama berabad-abad. Menurut Imas, kejayaan tersebut tidak hanya ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, tetapi juga oleh standar moral yang tinggi serta terjaganya fitrah manusia.
Dalam pandangannya, perubahan norma sosial yang dinilai bertentangan dengan fitrah dapat melemahkan fondasi masyarakat dan ketahanan umat. Ia menyoroti maraknya propaganda LGBTQIAAP sebagai salah satu persoalan yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian serius.
Imas memperingatkan bahwa masyarakat tidak dapat membangun umat yang kuat apabila fondasi moral justru mengalami kerusakan. Karena itu, kesadaran terhadap berbagai pengaruh yang mengancam generasi muda harus menjadi langkah awal untuk membangun kembali ketahanan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya mengidentifikasi berbagai celah yang dapat memengaruhi generasi muda Indonesia, termasuk melalui lingkungan sosial dan budaya yang membentuk pola pikir mereka.
Lebih lanjut, Imas mengajak umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat koordinasi, serta mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai moral dan fitrah manusia. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan kesadaran bersama agar generasi muda tidak kehilangan pegangan dalam menghadapi perubahan sosial.
Ia menegaskan bahwa langkah kebangkitan harus dimulai dengan keberanian mengenali persoalan dan menyuarakan pandangan secara terbuka. “Langkah pertama kebangkitan adalah kita sadar akan ancaman ini dan berani bersuara,” ujarnya.
Imas menutup pesannya dengan ajakan untuk membangun peradaban yang bertumpu pada benteng moral dan perlindungan terhadap fitrah manusia. “Mari bangun peradaban dengan benteng moral dan menjaga fitrah,” pungkasnya. []






