MUHASABAH

Haru Melepas Ramadhan

“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, empat hari lagi kita akan menjumpai hari yang dinanti-nanti. Ya, hari kemenangan seluruh umat muslim dunia, hari raya idulfitri yang agung.

Seperti biasa, pastinya di setiap penghujung akhir ramadhan kita selalu disibukkan dengan hal-hal yang identik dengan perayaan idulfitri. Pun, semua umat muslim di dunia merayakannya dengan tradisi yang berbeda.

Di Indonesia misalnya, salah satu keharusan yang sudah menjadi tradisi kita belanja pakaian baru menjelang lebaran. Kurang afdhol rasanya jika lebaran gak pakai baju baru. Wajar saja, setiap bulan Ramadhan dan menjelang lebaran, mal atau pusat perbelanjaan sesak dipenuhi pengunjung. Banyak merchant menawarkan banjir diskon, harga spesial, dan promo menarik lain.

Rasanya tak cukup kalau hanya membeli pakaian satu atau dua pasang saja. Tetapi ada hal yang luar biasa yang selama ini jarang ada orang yang menyadarinya.

Saudaraku, pernahkah dalam benak kita bertanya apakah amalan-amalan kita sudah cukup maksimal tidak dalam menjalankan amalan-amalan wajib maupun sunnah dalam bulan Ramadhan mulia ini? Semoga saja iya.

Sebagai makhluk ciptaan Allah siapa sih yang tidak bahagia menyambut hari kemenangan ini. Mungkin hanya sebagian dari kita saja yang merasakan haru pilu ketika bulan ramadhan akan meninggalkan kita.

Andai saja kita tahu bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita, pasti kita akan lebih memperbanyak dan memanfaatkan waktu kita dalam beramal soleh. Beruntunglah kita yang sampai hari ini Allah masih berikan nikmat iman dan takwa, masih bisa bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi.

Mungkin hari ini, esok ataukah nanti kita akan dipanggil menghadap sang maha pencipta, seperti orang-orang yang tidak sempat merasakan nikmat Ramadhan tahun ini, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi karena hanya sibuk dengan urusan dunia semata.

Lain halnya dengan Rasullullah dan para sahabat-Nya. Kala itu masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf, dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.

Pun, salah satu kebiasaan Rasullullah diriwatkan dalam sebuah hadis yang berbunyi, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau.” (HR. Al Bukhari)

Rasulullah menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam saat akan berpisah dengan bulan penuh ampunan ini. Hal itu juga yang dirasakan oleh para sahabatnya.

Ketika Rasulullah pernah berkata, “Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad Saw.”

Para sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah Saw menjawab, “Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan).” (Diriwayatkan dari Jabir).

Kemudian kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau merupakan seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hafal Al-Qur’an dan paling banyak meriwayatkan hadits. Namun menjelang kematiannya, beliau menangis. Orang-orang keheranan mengapa beliau menangis, dan mengira bahwa Abu Hurairah bersedih atas kematian. Abu Hurairah berkata, “Aku menangis karena perjalananku masih jauh, sedangkan bekalku sedikit”.

Semoga Ramadhan 1442 H ini, kita menjadi umat yang akan mendapatkan syafaat dari Rasullullah, dan sekiranya kita semua dapat memaksimalkan waktu dalam hal meningkatkan ketakwaan kita lebih baik dari pada Ramadhan setelah ini. Rasullullah bersabda, “Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan.” (HR Ibnu Abbas)

“Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.”

Wallahu ‘alam.

Yusriani Rini Lapeo, S.Pd., Anggota Muslimah Media dan Pemerhati Umat.

Artikel Terkait

Back to top button