RESONANSI

Hijrah Sendirian, Kering Kemudian

Bagi seorang perempuan, siapa yang tak ingin menjadi salehah? Pasti siapapun menginginkan. Mungkin kita pernah berada di posisi insecure dengan dosa sendiri, merenungi kelayakan diri, cocok tidak dengan kriteria penduduk surga. Mimpi melangit mengharapkan surga yang sama dengan mereka yang berlelah dalam lillah. Sementara kita masih tenggelam dalam dosa.

Beberapa di antara kita, sibuk memenuhi keinginan yang tidak pernah berujung dan menghias diri dengan beraneka pernak pernik mewah, meski harus dengan cara menipu. Tengoklah pada hari rabu lalu, seorang wanita asal Mojokerto nekat melakukan penipuan, mengaku menggunakan uang arisan untuk membayar angsuran dua mobil dan membangun rumah mewah dua lantai. Di Bandar Lampung, seorang anak tega menjual sepeda motor orangtua sendiri secara paksa untuk foya-foya.

Belum lagi imbas pergaulan bebas yang terjadi disekitar kita, misalnya yang terjadi di Wonogiri. 92 remaja nikah dini karena hamil duluan. Itu baru yang terdaftar. Kasus aborsipun rasanya tak henti-henti selalu ada dalam pemberitaan. Inilah lingkungan hidup kita hari ini. Jauh dari nilai-nilai Islam, Islam hanya untuk mengurusi ibadah semata. Padahal Islam adalah solusi atas segala yang terjadi di negeri ini. Sebagai pedoman dan tuntunan jalan kehidupan manusia di dunia untuk memperoleh kebahagiaan.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berupa penjelasan terhadap segala sesuatu.” (QS an-Nahl [16]: 89)

Saat hidup di tengah lingkungan yang jauh dari nilai Islam, menjadi baikpun tak mudah. Banyak sekali godaan. Terlebih kalau sendirian, dan belajar agama hanya lewat media online. Tak punya kawan atau guru yang mendukung dan tempat untuk bertanya. Kering tenan yang terasa. Padahal ini amatlah penting. Sebab, tak ada penguatan iman dan filter kebenaran informasi. Kita pasti sulit untuk istiqamah, dan tak ada yang mengingatkan bila diri kita futur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).

Jadi kalau mau berhijrah, jangan sendirian. Carilah guru, teman dan lingkungan yang mendukung. Hingga kita bisa meng-instal Islam ke dalam diri kita sampai kita merasakan betul bagaimana Islam ini tak hanya menjadikan pribadi menjadi baik, tapi juga negeri ini.

Karena Islam adalah din yang syamil (menyeluruh) dan kamil (paripurna). Mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara holistik, universal dan senantiasa up to date, dimana penerapannya secara total dipastikan akan menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang secara fitrah menjadi dambaan manusia tanpa kecuali.

Yasyirah, S.P

Artikel Terkait

Back to top button